Categories
Artikel

Wisuda Angkatan 21 Program Studi Bisnis Digital Telkom University Purwokerto: Angkatan Pertama Penanda Sejarah

Purwokerto, 16 Desember 2025

Program Studi Bisnis Digital Telkom University Purwokerto mencatatkan sejarah penting melalui pelaksanaan Wisuda Angkatan 21 yang merupakan angkatan pertama dari Program Studi Bisnis Digital. Momen ini menjadi tonggak awal perjalanan prodi dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan dunia bisnis berbasis teknologi digital.

Sebagai angkatan pertama, mahasiswa Wisuda Angkatan 21 memiliki peran strategis dalam membentuk identitas dan citra Program Studi Bisnis Digital. Selama menempuh pendidikan, para mahasiswa tidak hanya menjalani proses akademik, tetapi juga turut beradaptasi dan berkembang bersama prodi yang masih dalam tahap penguatan sistem, kurikulum, serta budaya akademik. Hal ini menjadikan Angkatan 21 sebagai pelopor yang meletakkan fondasi awal bagi angkatan-angkatan selanjutnya.

Selama masa studi, mahasiswa dibekali dengan kurikulum yang mengintegrasikan ilmu bisnis dan teknologi digital. Pembelajaran difokuskan pada pengembangan kemampuan analisis bisnis, pemanfaatan teknologi digital, kewirausahaan, pemasaran digital, serta inovasi model bisnis. Berbagai kegiatan penunjang seperti proyek berbasis praktik, magang, dan pengabdian kepada masyarakat turut memperkaya pengalaman belajar mahasiswa.

Keberhasilan Wisuda Angkatan 21 tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, khususnya dosen dan tenaga kependidikan yang berperan aktif dalam membimbing mahasiswa sejak awal berdirinya program studi. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga menjadi faktor penting yang menguatkan mahasiswa dalam menyelesaikan studi tepat waktu dan dengan capaian yang membanggakan.

Sebagai lulusan pertama, para wisudawan dan wisudawati diharapkan mampu menjadi duta dan representasi kualitas Program Studi Bisnis Digital Telkom University Purwokerto di dunia kerja maupun masyarakat. Mereka diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga karakter adaptif, inovatif, dan berjiwa kepemimpinan, sesuai dengan kebutuhan industri digital yang terus berkembang.

Momentum wisuda ini menjadi simbol dimulainya kontribusi nyata lulusan Program Studi Bisnis Digital bagi dunia profesional. Para lulusan diharapkan mampu terus mengembangkan diri, menjaga integritas, serta berperan aktif dalam menciptakan solusi dan peluang di bidang bisnis digital.

Melalui kelulusan Angkatan 21 sebagai angkatan pertama, Program Studi Bisnis Digital Telkom University Purwokerto menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan menghasilkan lulusan yang unggul serta berdaya saing. Wisuda ini bukan hanya akhir dari masa studi, tetapi juga awal dari perjalanan panjang dalam membangun reputasi dan kontribusi prodi di tingkat nasional.

Categories
Artikel

Market Day Telkom University Purwokerto: Ajang Kreativitas, Kewirausahaan, dan Kolaborasi Mahasiswa

Purwokerto, 08 Desember 2025

Telkom University Purwokerto kembali menggelar Market Day,  acara ini diikuti oleh berbagai program studi dan menghadirkan beragam produk kreatif hasil karya mahasiswa, mulai dari makanan dan minuman, fashion, kerajinan tangan, hingga produk digital.

Apa Itu Market Day

Market Day Telkom University Purwokerto merupakan sebuah kegiatan kewirausahaan yang diselenggarakan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mempraktikkan ilmu bisnis secara langsung. Acara ini menghadirkan berbagai booth yang dikelola oleh mahasiswa dari berbagai program studi, di mana mereka menampilkan produk buatan sendiri, mulai dari makanan dan minuman, merchandise kreatif, hingga produk digital. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami proses bisnis secara menyeluruh dalam suasana yang nyata dan interaktif.

Tujuan Penyelenggaraan Market Day

Tujuan utama Market Day adalah memberikan pengalaman experiential learning bagi mahasiswa. Dalam kegiatan ini, mahasiswa dilatih untuk merancang produk, menyusun strategi pemasaran, mengelola modal, menentukan harga, dan memberikan pelayanan pelanggan secara langsung. Melalui praktik nyata di lapangan, mahasiswa dapat memahami bagaimana teori-teori bisnis yang dipelajari di kelas diterapkan dalam situasi sebenarnya. Selain itu, Market Day juga bertujuan menumbuhkan kreativitas, jiwa inovatif, serta kemampuan mahasiswa dalam berkolaborasi dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar.

Contoh Brand dari Mahasiswa

Market Day menghadirkan berbagai brand mahasiswa yang menawarkan produk kreatif dan inovatif. Salah satunya adalah Matchae, brand minuman berbahan dasar matcha premium yang memadukan rasa autentik dengan konsep kemasan modern. Ada pula Tacorico, brand kuliner fusi yang menyajikan taco dengan isian bercita rasa lokal, menjadikannya salah satu booth dengan konsep paling menarik. Brand lainnya adalah Mr. Rollie, dessert egg roll manis yang disajikan dengan berbagai topping premium dan menjadi favorit banyak pengunjung. Kehadiran brand-brand ini menunjukkan tingginya kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan ide menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Manfaat Market Day bagi Mahasiswa

Market Day memberikan banyak manfaat, terutama dalam mengasah kemampuan praktik bisnis mahasiswa. Mereka belajar mengatur keuangan, memahami kebutuhan konsumen, dan menghadapi tantangan langsung seperti mengelola antrean, mengatasi stok yang habis, atau menyesuaikan strategi penjualan. Selain itu, kegiatan ini juga melatih kemampuan komunikasi, negosiasi, dan kerja sama tim. Melalui pengalaman ini, mahasiswa mendapatkan gambaran lebih realistis tentang dunia usaha dan menjadi lebih siap untuk membangun bisnis atau bekerja dalam lingkungan profesional setelah lulus.

Kesimpulan

Market Day Telkom University Purwokerto merupakan kegiatan penting yang tidak hanya menumbuhkan kreativitas dan semangat kewirausahaan mahasiswa, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan praktis yang relevan dengan dunia bisnis saat ini. Berbagai brand mahasiswa seperti Matchae, Tacorico, dan Mr. Rollie menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan inovasi yang menarik dan potensial. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, kampus semakin memperkuat budaya inovasi dan kemandirian, sekaligus mempersiapkan mahasiswa untuk bersaing di era industri digital yang kompetitif.

Categories
Artikel

STP Dalam Marketing: Strategi untuk Brand dapat Bertahan di Pasar Kompetitif

Poster Artikel Website (25)

Purwokerto, 01 Desember 2025

Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, memahami kebutuhan konsumen menjadi kunci keberhasilan sebuah merek. Salah satu strategi yang paling banyak digunakan dan dianggap paling efektif adalah STP Marketing, yaitu Segmentation, Targeting, Positioning. Konsep ini membantu perusahaan memahami siapa konsumen mereka, bagaimana memilih pasar terbaik, dan bagaimana menempatkan merek secara kuat dalam benak konsumen.

1. Apa Itu STP Menurut Para Ahli?

Beberapa ahli pemasaran memberikan definisi yang memperjelas konsep STP dalam dunia marketing:

  • Philip Kotler & Kevin Keller menyatakan bahwa STP adalah proses membagi pasar menjadi kelompok-kelompok konsumen, memilih segmen yang ingin dituju, lalu membangun citra produk yang memiliki posisi jelas di benak konsumen.

  • Lamb, Hair & McDaniel mendefinisikan STP sebagai kerangka kerja pemasaran yang bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelanggan secara lebih spesifik, menargetkan segmen yang paling menguntungkan, dan melakukan diferensiasi produk untuk menciptakan nilai unik.

  • William J. Stanton menjelaskan bahwa segmentasi, targeting, dan positioning merupakan cara perusahaan menemukan kelompok pasar yang homogen lalu menciptakan penawaran yang relevan dengan karakteristik kelompok tersebut.

Dari berbagai pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa STP membantu perusahaan mengembangkan strategi pemasaran yang lebih terarah sehingga pesan yang disampaikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan konsumennya.

2. Segmentasi: Cara Membagi Pasar Menjadi Kelompok yang Lebih Tepat

Segmentasi adalah tahap pertama dalam STP. Tujuannya adalah membagi pasar menjadi kelompok konsumen yang memiliki kesamaan kebutuhan, perilaku, atau karakteristik tertentu.

Menurut Kotler, segmentasi dapat dilakukan berdasarkan:

  • Demografis: usia, gender, pendapatan, pekerjaan, pendidikan.

  • Geografis: negara, provinsi, kota, iklim.

  • Psikografis: gaya hidup, minat, nilai hidup, kepribadian.

  • Perilaku: manfaat yang dicari, frekuensi pembelian, loyalitas, tingkat penggunaan.

Segmentasi yang baik harus memenuhi kriteria: dapat diukur, cukup besar, mudah dijangkau, dapat dibedakan, dan dapat ditindaklanjuti.

Dengan segmentasi yang tepat, perusahaan bisa lebih fokus dan efisien dalam merancang produk maupun kampanye pemasaran.

3. Targeting: Memilih Segmen Pasar yang Paling Menguntungkan

Setelah segmen terbentuk, perusahaan perlu memilih segmen mana yang paling potensial untuk dilayani. Proses ini disebut targeting.

Dalam memilih target pasar, perusahaan mempertimbangkan:

  • Ukuran segmen

  • Potensi pertumbuhan

  • Tingkat persaingan

  • Kesesuaian dengan kemampuan perusahaan

Ada beberapa strategi targeting yang umum digunakan:

  • Undifferentiated marketing: strategi massal, produk untuk semua orang.

  • Differentiated marketing: setiap segmen diberi produk berbeda.

  • Niche marketing: fokus pada segmen kecil yang sangat spesifik.

  • Micromarketing: penyesuaian untuk kelompok sangat kecil bahkan individu.

Targeting yang tepat membuat perusahaan tidak membuang waktu dan anggaran ke segmen yang kurang potensial.

4. Positioning: Menciptakan Citra Unik di Benak Konsumen

Positioning adalah proses membangun persepsi tertentu di dalam pikiran konsumen tentang keunggulan sebuah produk atau merek. Tujuannya adalah agar konsumen bisa membedakan produk kita dari produk kompetitor.

Menurut Kotler, positioning harus menjawab pertanyaan berikut:
“Mengapa konsumen harus memilih produk kita, bukan yang lain?”

Positioning dapat dilakukan berdasarkan:

  • Keunggulan produk

  • Manfaat yang diberikan

  • Harga dan kualitas

  • Penggunaan produk

  • Karakter pengguna

  • Perbandingan dengan pesaing

Positioning yang kuat menciptakan identitas merek yang mudah diingat dan dipercaya.

5. Contoh Penerapan STP di Indonesia: Indomie

Indomie adalah contoh sukses STP di Indonesia. Mereka memetakan pasar dari berbagai segmen: anak-anak, remaja, mahasiswa, pekerja, hingga keluarga. Indomie kemudian menargetkan konsumen yang membutuhkan makanan cepat saji dengan harga terjangkau.

Untuk positioning, Indomie menempatkan diri sebagai mie instan dengan cita rasa Indonesia yang enak, praktis, dan cocok untuk siapa saja. Hasilnya, Indomie bukan hanya produk makanan tetapi sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia.

6. Kenapa STP Penting untuk Bisnis?

Ada banyak alasan STP wajib diterapkan oleh brand:

  • Mempermudah bisnis memahami kebutuhan pelanggan

  • Menghemat biaya promosi karena lebih tepat sasaran

  • Meningkatkan peluang penjualan

  • Membantu brand menjadi lebih dikenal

  • Menciptakan hubungan jangka panjang dengan konsumen

Bisnis yang menerapkan STP dengan baik biasanya memiliki pesan marketing yang lebih kuat dan konsisten.

7. Kesimpulan

Secara keseluruhan, strategi STP (Segmentation, Targeting, Positioning) merupakan kerangka penting yang membantu perusahaan memahami pasar secara lebih mendalam, memilih segmen yang paling menguntungkan, dan menempatkan merek secara efektif di benak konsumen. Dengan segmentasi yang tepat, perusahaan dapat mengetahui kelompok pelanggan yang memiliki kebutuhan sama; melalui targeting, perusahaan dapat fokus pada segmen yang memiliki potensi terbesar; dan melalui positioning, perusahaan dapat membangun identitas merek yang kuat dan mudah diingat. Penerapan STP yang baik memungkinkan perusahaan meningkatkan relevansi pesan pemasaran, memperkuat loyalitas konsumen, dan menciptakan keunggulan kompetitif jangka panjang, sebagaimana terlihat pada keberhasilan Indomie dalam mendominasi pasar. Dengan demikian, STP bukan hanya strategi pemasaran, tetapi juga kunci untuk membangun hubungan yang berkelanjutan antara merek dan konsumennya.

8. Daftar Pustaka

  • Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th ed.). Pearson Education.
  • Lamb, C. W., Hair, J. F., & McDaniel, C. (2018). Marketing (13th ed.). Cengage Learning.
  • Stanton, W. J., Etzel, M. J., & Walker, B. J. (1994). Fundamentals of Marketing (10th ed.). McGraw-Hill.
  • Schiffman, L., & Kanuk, L. L. (2010). Consumer Behavior (10th ed.). Pearson.
  • Tjiptono, F. (2015). Strategi Pemasaran. Andi Offset.
Categories
Artikel

Business Model Canvas (BMC): Konsep, Komponen, dan Manfaat dalam Bisnis Digital

Purwokerto, 14 November 2025

1. Konsep Business Model Canvas (BMC) dalam Bisnis Digital

Business Model Canvas (BMC) adalah kerangka kerja strategis yang digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis model bisnis dalam satu tampilan visual yang komprehensif. Dalam konteks bisnis digital—yang ditandai oleh percepatan inovasi teknologi, perubahan perilaku konsumen online, serta persaingan yang sangat kompetitif—BMC berperan sebagai alat yang sangat penting untuk merancang model bisnis yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan pengguna. BMC memungkinkan perusahaan digital memahami bagaimana nilai diciptakan melalui platform, aplikasi, atau layanan digital (value creation), bagaimana nilai tersebut disampaikan kepada pengguna (value delivery), dan bagaimana nilai dikonversi menjadi pendapatan (value capture). Dengan pendekatan yang terstruktur dan mudah dipahami, BMC membantu pelaku bisnis digital merancang strategi yang lebih fleksibel, inovatif, dan berkelanjutan.


2. Komponen Business Model Canvas dalam Bisnis Digital

BMC terdiri dari sembilan komponen utama yang saling berhubungan dan berfungsi sebagai fondasi model bisnis. Dalam bisnis digital, komponen-komponen ini memiliki karakteristik yang lebih dinamis karena dipengaruhi oleh teknologi, data, dan perilaku pengguna internet.

a. Customer Segments (Segmen Pelanggan)

Dalam bisnis digital, segmentasi pelanggan dapat mencakup pengguna aplikasi, pembeli online, pengiklan, pembuat konten, hingga pengguna layanan freemium. Segmentasi biasanya dilakukan berdasarkan data (data-driven segmentation) seperti demografi digital, pola perilaku, minat, preferensi, dan aktivitas online. Pemahaman mendalam mengenai segmen pelanggan sangat penting untuk menyesuaikan produk digital dengan kebutuhan mereka.

b. Value Proposition (Proposisi Nilai)

Proposisi nilai dalam bisnis digital mencakup kemudahan akses 24/7, personalisasi berbasis data, kecepatan layanan, efisiensi, otomatisasi, pengalaman pengguna yang intuitif, serta inovasi teknologi seperti AI, cloud, dan aplikasi mobile. Proposisi nilai harus mampu memecahkan masalah pengguna digital secara cepat, efisien, dan konsisten.

c. Channels (Saluran Distribusi)

Saluran distribusi dalam bisnis digital meliputi website, aplikasi mobile, media sosial, marketplace digital, email, push notification, serta strategi SEO dan SEM. Channels ini digunakan untuk proses akuisisi, konversi, distribusi layanan, komunikasi, dan retensi pelanggan.

d. Customer Relationships (Hubungan Pelanggan)

Hubungan pelanggan dalam bisnis digital dibangun melalui layanan otomatis seperti chatbot, personalisasi konten berbasis data, komunitas digital (forum atau grup), layanan pelanggan omnichannel, serta program loyalitas berbasis digital. Hubungan yang kuat menjadi sangat penting karena biaya mempertahankan pelanggan (retention) lebih rendah dibandingkan memperoleh pelanggan baru (acquisition).

e. Revenue Streams (Arus Pendapatan)

Arus pendapatan dalam bisnis digital dapat berasal dari penjualan produk atau layanan digital, subscription, freemium to premium upgrade, iklan digital, komisi marketplace, lisensi teknologi, hingga in-app purchase. Beragamnya model pendapatan ini memberikan fleksibilitas untuk menyesuaikan strategi monetisasi dengan perilaku pengguna.

f. Key Resources (Sumber Daya Utama)

Sumber daya utama dalam bisnis digital biasanya meliputi platform teknologi seperti aplikasi dan website, data pengguna, tim developer dan IT, algoritma dan database, brand, komunitas pengguna, serta aset digital seperti desain UI/UX dan sistem keamanan.

g. Key Activities (Aktivitas Utama)

Aktivitas utama dalam bisnis digital mencakup pengembangan aplikasi atau website, maintenance dan update sistem, analisis data, digital marketing, cybersecurity, pengelolaan konten, dan quality assurance. Aktivitas-aktivitas ini mendukung kelancaran operasional dan kenyamanan pengguna.

h. Key Partnerships (Kemitraan Utama)

Bisnis digital sangat bergantung pada berbagai bentuk kemitraan seperti penyedia teknologi (cloud, payment gateway), platform iklan (Google Ads, Meta Ads), penyedia logistik untuk e-commerce, komunitas digital, influencer, hingga kolaborasi dengan startup lain. Kemitraan ini memperkuat ekosistem digital dan menekan biaya operasional.

i. Cost Structure (Struktur Biaya)

Struktur biaya dalam bisnis digital meliputi pengembangan aplikasi, server dan hosting, digital marketing, gaji tim IT dan kreatif, keamanan sistem, serta riset untuk inovasi teknologi. Biaya dalam bisnis digital lebih banyak berfokus pada teknologi dan pengembangan fitur dibandingkan produksi fisik.


3. Manfaat Business Model Canvas bagi Bisnis Digital

Penggunaan BMC memberikan berbagai manfaat strategis bagi bisnis digital. Pertama, BMC mempermudah visualisasi model bisnis karena seluruh elemen dapat dipresentasikan dalam satu halaman sehingga memudahkan pemetaan alur nilai dan strategi. Kedua, BMC mendukung pengambilan keputusan yang cepat, terutama dalam lingkungan digital yang sangat dinamis. Ketiga, BMC membantu proses validasi ide dalam pendekatan Lean Startup, sehingga startup dapat menguji hipotesis tanpa mengeluarkan biaya besar. Keempat, BMC meningkatkan kolaborasi tim karena menjadi alat komunikasi yang mudah dipahami oleh berbagai departemen seperti bisnis, developer, dan UI/UX. Kelima, BMC berfungsi sebagai alat pitching yang efektif bagi investor karena mampu menggambarkan model bisnis secara ringkas namun strategis. Keenam, BMC membantu bisnis digital fokus pada value creation berbasis teknologi, sehingga mampu menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

4. Keunggulan Business Model Canvas

Beberapa manfaat penggunaan Business Model Canvas (BMC) dalam bisnis digital antara lain:

  • Visual dan mudah dipahami, karena seluruh elemen model bisnis ditampilkan dalam satu halaman, sehingga mempermudah proses analisis dan komunikasi antar tim.

  • Fleksibel, memungkinkan model bisnis diperbarui dengan cepat sesuai perubahan teknologi, tren digital, dan kebutuhan pengguna.

  • Efektif untuk brainstorming, terutama pada startup dan UMKM digital yang membutuhkan eksplorasi ide secara cepat dan kolaboratif.

  • Komprehensif namun ringkas, karena mencakup semua komponen inti bisnis tanpa membutuhkan dokumen yang panjang.

  • Cocok untuk berbagai jenis bisnis, mulai dari usaha kecil berbasis digital hingga perusahaan teknologi besar yang melakukan inovasi atau transformasi digital.


5. Penerapan BMC dalam Bisnis Modern

Business Model Canvas banyak digunakan dalam berbagai proses strategis, khususnya di sektor bisnis digital, seperti:

  • Penyusunan dan pengembangan bisnis digital baru, misalnya aplikasi mobile, platform e-commerce, fintech, atau layanan berbasis web.

  • Pitch deck untuk investor, karena BMC dapat menjelaskan model bisnis secara ringkas, visual, dan mudah dipahami.

  • Perancangan produk dan layanan digital, termasuk pengembangan fitur dan peningkatan pengalaman pengguna (UX).

  • Transformasi digital perusahaan, untuk memetakan pergeseran model bisnis dari konvensional ke digital.

  • Analisis pesaing dan pemetaan strategi, sehingga perusahaan dapat melihat posisi mereka dalam ekosistem digital dan menentukan langkah pengembangan yang tepat.

6. Kesimpulan

Business Model Canvas merupakan alat strategis yang sangat penting dalam merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi bisnis digital. Dengan sembilan komponen inti yang saling terintegrasi, BMC membantu perusahaan memvisualisasikan bagaimana nilai diciptakan melalui teknologi, bagaimana hubungan dengan pengguna dibangun, serta bagaimana pendapatan dihasilkan secara berkelanjutan. Di era digital yang serba cepat, BMC menjadi panduan efektif bagi bisnis untuk beradaptasi, berinovasi, dan bertumbuh di tengah persaingan yang semakin ketat.

7. Daftar Pustaka

  • Osterwalder, A., & Pigneur, Y. (2010). Business Model Generation. John Wiley & Sons.
  • Osterwalder, A., Pigneur, Y., Bernarda, G., & Smith, A. (2014). Value Proposition Design. Wiley.
  • Blank, S. (2013). Why the Lean Start-Up Changes Everything. Harvard Business Review.
  • Kotler, P., Kartajaya, H., & Setiawan, I. (2017). Marketing 4.0: Moving from Traditional to Digital. Wiley.
  • Magretta, J. (2002). Why Business Models Matter. Harvard Business Review.
  • Laudon, K. C., & Traver, C. G. (2021). E-Commerce: Business, Technology, Society. Pearson.
    Chaffey, D. (2015). Digital Business and E-Commerce Management. Pearson.
Categories
Artikel

Analisis SWOT dalam Bisnis: Pengertian, Tujuan, dan Penerapannya

51

Purwokerto, 12 November 2025

1. Pengertian Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah salah satu alat strategis yang digunakan untuk memahami kondisi internal dan eksternal suatu organisasi atau bisnis. SWOT merupakan singkatan dari Strengths (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan), Opportunities (Peluang), dan Threats (Ancaman). Melalui analisis ini, perusahaan dapat mengevaluasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja bisnis, baik dari dalam maupun luar organisasi, sehingga dapat menentukan strategi yang tepat untuk mencapai tujuan.

Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Albert Humphrey pada tahun 1960-an di Stanford Research Institute. Tujuannya adalah membantu organisasi dalam merumuskan strategi bisnis berdasarkan pemahaman menyeluruh terhadap kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan ancaman dari lingkungan eksternal. Hingga saat ini, analisis SWOT masih digunakan secara luas dalam berbagai bidang, terutama dalam perencanaan dan pengambilan keputusan bisnis.

2. Tujuan dan Manfaat Analisis SWOT dalam Bisnis

Analisis SWOT memiliki tujuan utama untuk membantu organisasi memahami posisi strategisnya di pasar dan menyusun rencana tindakan yang realistis. Dalam konteks bisnis, analisis ini berguna untuk mengidentifikasi faktor internal yang mendukung keunggulan kompetitif serta mengenali potensi perbaikan di area yang masih lemah.

Selain itu, dengan memahami peluang dan ancaman dari luar, perusahaan dapat merespons perubahan pasar dengan cepat dan tepat. Misalnya, perusahaan dapat memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pemasaran, atau mengantisipasi ancaman dari meningkatnya persaingan di industri sejenis. Dengan demikian, SWOT menjadi dasar penting dalam merumuskan strategi jangka pendek maupun jangka panjang.

3. Komponen-Komponen Analisis SWOT

Analisis SWOT terdiri dari empat komponen utama: kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.

  • Kekuatan (Strengths) mencakup keunggulan internal perusahaan, seperti kualitas produk yang baik, sumber daya manusia yang kompeten, teknologi modern, dan reputasi merek yang kuat.
  • Kelemahan (Weaknesses) adalah faktor internal yang menjadi kendala dalam mencapai tujuan bisnis, seperti keterbatasan modal, kurangnya inovasi, atau strategi pemasaran yang belum optimal.
  • Peluang (Opportunities) merujuk pada kondisi eksternal yang dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan, misalnya tren pasar yang positif, kemajuan teknologi, atau kebijakan pemerintah yang mendukung.
  • Sementara itu, Ancaman (Threats) adalah faktor eksternal yang dapat menimbulkan risiko, seperti munculnya pesaing baru, perubahan regulasi, krisis ekonomi, atau pergeseran preferensi konsumen.

Dengan memahami keempat aspek ini, perusahaan dapat merancang strategi yang lebih efektif dan berorientasi pada keberlanjutan bisnis.

4. Contoh Penerapan Analisis SWOT dalam Bisnis

Sebagai contoh, pada bisnis kuliner lokal, sebuah restoran dapat mengidentifikasi kekuatan berupa cita rasa khas dan bahan baku yang segar. Namun, restoran tersebut memiliki kelemahan pada aspek promosi digital yang belum optimal. Sementara itu, terdapat peluang berupa meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan tradisional, dan ancaman dari banyaknya pesaing baru yang menawarkan menu serupa.

Dari hasil analisis tersebut, strategi yang dapat diterapkan adalah meningkatkan promosi melalui media sosial, memperluas layanan pesan antar, serta memperkuat hubungan pelanggan melalui program loyalitas. Dengan strategi yang tepat, analisis SWOT membantu bisnis untuk terus beradaptasi dengan perubahan pasar dan menjaga daya saingnya.

5. Langkah-Langkah Melakukan Analisis SWOT

Untuk melakukan analisis SWOT secara efektif, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan data relevan dari berbagai sumber, seperti laporan keuangan, riset pasar, serta survei kepuasan pelanggan. Setelah itu, identifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi bisnis.

Langkah berikutnya adalah menuliskan hasil identifikasi tersebut dalam bentuk matriks SWOT, sehingga hubungan antar unsur dapat terlihat dengan jelas. Dari matriks tersebut, perusahaan dapat mengembangkan empat jenis strategi utama, yaitu:

  • Strategi SO (Strength-Opportunity): menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang.
  • Strategi WO (Weakness-Opportunity): memperbaiki kelemahan dengan memanfaatkan peluang.
  • Strategi ST (Strength-Threat): memanfaatkan kekuatan untuk menghadapi ancaman.
  • Strategi WT (Weakness-Threat): mengurangi kelemahan dan menghindari ancaman.

Pendekatan ini memungkinkan organisasi untuk menyesuaikan strategi bisnisnya sesuai kondisi yang dihadapi.

6. Kesimpulan

Analisis SWOT merupakan alat penting dalam perencanaan strategis bisnis yang berfungsi untuk mengevaluasi faktor internal dan eksternal perusahaan. Dengan memahami kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, organisasi dapat menyusun strategi yang lebih efektif, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Dalam dunia bisnis yang kompetitif, kemampuan melakukan analisis SWOT dengan baik dapat membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih bijak dan mempertahankan keunggulan kompetitif di pasar.

7. Daftar Pustaka

  • David, F. R. (2017). Strategic Management: Concepts and Cases. Pearson Education.
  • Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th ed.). Pearson Education.
  • Gurel, E., & Tat, M. (2017). SWOT Analysis: A Theoretical Review. The Journal of International Social Research, 10(51), 994–1006.
  • Panagiotou, G. (2003). Bringing SWOT into Focus. Business Strategy Review, 14(2), 8–10.
  • Helms, M. M., & Nixon, J. (2010). Exploring SWOT Analysis – Where Are We Now? Journal of Strategy and Management, 3(3), 215–251.
Categories
Artikel

Optimalisasi Penggunaan Platform Digital Untuk Berbisnis

Poster Artikel Website (23)

Purwokerto, 29 Oktober 2025

Dalam upaya meningkatkan kompetensi digital civitas akademika dan pelaku UMKM, dosen Telkom University Purwokerto menggelar workshop bersama dengan Asosiasi Pengusaha Mikro, Kecil, dan Menengah Kabupaten Banyumas ( ASPIKMAS ) yang bertajuk “Optimalisasi Penggunaan Platform Digital Untuk Berbisnis”. Kegiatan ini dipandu oleh tim dosen yang terdiri dari Lina Fatimah Lishobrina, S.A.B., M.M., Ade Yanyan Ramdhani, S.T., M.T., dan Yosita Dwiani S., S.Pi., M.Si.

Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai strategi pemanfaatan platform TikTok sebagai sarana promosi digital yang efektif, kreatif, dan relevan dengan tren pemasaran masa kini. Workshop ini menjadi bagian dari program penguatan literasi digital dan pengembangan kewirausahaan mahasiswa maupun pelaku UMKM di era ekonomi kreatif.

Langkah – langkah Strategis dalam Optimalisasi Tiktok

Melalui workshop ini, peserta diperkenalkan pada delapan langkah utama dalam mengoptimalkan penggunaan TikTok sebagai media branding dan promosi, yaitu:

  1. Menentukan Tujuan dan Audiens
    Peserta diajak menentukan arah konten — apakah untuk brand awareness, penjualan, edukasi, atau hiburan. Selain itu, mereka belajar mengenali karakter audiens berdasarkan usia, minat, dan waktu aktif.

  2. Riset Konten dan Tren
    Penggunaan fitur Discover dan hashtag trending menjadi dasar untuk memahami tren terbaru. Peserta diminta mengamati lima konten teratas di niche mereka untuk menemukan pola sukses yang bisa diadaptasi.

  3. Perencanaan Konten (Content Pillars)
    Peserta membuat 3–4 pilar konten seperti edukasi, testimonial, behind the scenes, atau hiburan. Setiap pilar disusun dalam kalender konten mingguan agar konsisten dan terukur.

  4. Produksi Video dan Teknik Dasar
    Peserta diberi panduan tentang durasi ideal (15–45 detik), penggunaan pencahayaan alami, serta teknik pengambilan gambar dengan tripod untuk hasil yang stabil dan profesional.

  5. Editing Cepat dan Hook Menarik
    Fokus diberikan pada pembukaan video (hook) dalam 3 detik pertama untuk menarik perhatian. Peserta mempraktikkan teknik jump cuts, penambahan teks singkat, serta caption pendukung.

  6. Optimasi Posting
    Pembahasan mencakup pembuatan caption singkat dengan ajakan bertindak (CTA), pemilihan hashtag relevan (3–5 kombinasi niche dan tren), serta uji waktu posting untuk hasil maksimal.

  7. Analitik dan Iterasi
    Peserta diperkenalkan pada metrik penting seperti views, watch time, dan engagement rate. Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi format yang efektif dan mengembangkan strategi baru.

  8. Growth Hacks dan Kolaborasi
    Ditekankan pentingnya kolaborasi dengan kreator lain melalui fitur duet atau stitch, serta pemanfaatan user generated content (UGC) untuk membangun social proof dan meningkatkan kepercayaan audiens.

Pendekatan Praktis dan Interaktif

Workshop ini tidak hanya berisi teori, tetapi juga menghadirkan sesi praktik langsung yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing peserta. Karena setiap peserta memiliki bidang bisnis yang berbeda, kegiatan praktik dilakukan secara individual agar strategi konten yang dihasilkan lebih relevan dengan kebutuhan usaha masing-masing. Peserta berlatih menentukan tujuan dan audiens, melakukan brainstorming ide konten, memilih konten yang sesuai dengan bisnis mereka, melakukan proses editing cepat menggunakan template capcut, serta mempublikasikan hasilnya di akun Tiktok masing-masing peserta. Melalui pendekatan ini, peserta memperoleh pengalaman nyata dalam menciptakan konten yang sesuai dengan identitas bisnis mereka

Penulis: Novita Damayanti & Nuki Prtama | Editor: Tim IT Bisnis Digital | Foto: Dokumentasi Prib

Categories
Artikel

Digital Business Law: Fondasi Hukum dalam Era Bisnis Digital

Poster Artikel Website (18)

Purwokerto, 12 November 2025

Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi, bertransaksi, dan menjalankan bisnis. Transformasi ini melahirkan era baru yang dikenal sebagai digital economy atau ekonomi digital. Dalam konteks ini, hukum pun harus beradaptasi agar mampu mengatur dinamika yang muncul di dunia maya. Inilah yang dikenal sebagai Digital Business Law — seperangkat aturan hukum yang mengatur kegiatan bisnis berbasis digital.

1. Pengertian Digital Business Law

Digital Business Law adalah bidang hukum yang mengatur segala aktivitas bisnis yang dilakukan melalui media digital, seperti e-commerce, fintech, digital marketing, transaksi elektronik, hingga perlindungan data pribadi. Tujuannya adalah menciptakan kepastian hukum, melindungi pelaku usaha dan konsumen, serta mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang sehat dan beretika.

Dalam konteks Indonesia, dasar hukum utama yang berkaitan dengan bisnis digital diatur dalam:

  • Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) beserta perubahannya;

  • Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP);

  • serta berbagai peraturan pelaksana seperti Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri terkait e-commerce dan transaksi elektronik.

2.Ruang Lingkup Digital Business Law

  • Transaksi Elektronik
    Mengatur sahnya kontrak atau perjanjian yang dibuat secara digital, termasuk tanda tangan elektronik dan bukti transaksi online. Dalam hukum Indonesia, transaksi digital diakui sah sepanjang memenuhi unsur kesepakatan para pihak dan tidak melanggar ketentuan perundang-undangan.

  • Perlindungan Konsumen Digital
    Pelaku usaha wajib memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur kepada konsumen. Konsumen juga memiliki hak untuk memperoleh barang/jasa sesuai deskripsi serta hak atas keamanan data pribadi.

  • Perlindungan Data Pribadi (PDP)
    Data pribadi kini diakui sebagai bagian dari hak asasi manusia. Pelaku bisnis digital wajib menjaga kerahasiaan, keamanan, dan integritas data pengguna sesuai UU PDP, serta wajib memiliki mekanisme persetujuan penggunaan data (consent).

  • Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
    Dalam dunia digital, pelanggaran HKI seperti plagiarisme, pembajakan, atau penggunaan konten tanpa izin semakin sering terjadi. Digital Business Law melindungi hak cipta, merek dagang, dan paten yang digunakan dalam bisnis online.

  • Keamanan Siber (Cybersecurity)
    Keamanan sistem informasi merupakan aspek penting dalam bisnis digital. Serangan siber dapat menyebabkan kerugian besar, baik secara finansial maupun reputasi. Oleh karena itu, perusahaan harus menerapkan cybersecurity compliance.

3.  Tantangan dalam Penerapan Digital Business Law

Meskipun regulasi telah ada, implementasi Digital Business Law masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti:

  • Minimnya literasi hukum digital di kalangan pelaku UMKM;

  • Kurangnya pengawasan terhadap praktik bisnis online lintas negara;

  • Cepatnya inovasi teknologi yang melampaui kecepatan pembuatan regulasi;

  • Risiko penyalahgunaan data pribadi oleh pihak ketiga.

4.  Peluang dan Arah ke Depan

Digital Business Law berperan penting dalam menciptakan ekosistem digital yang aman, transparan, dan berkelanjutan. Pemerintah dan sektor swasta perlu berkolaborasi dalam:

  • Mengedukasi masyarakat tentang hak dan kewajiban digital;

  • Meningkatkan keamanan data dan sistem transaksi;

  • Mendorong inovasi hukum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi seperti AI, blockchain, dan metaverse.

Dengan regulasi yang kuat dan penerapan yang konsisten, Indonesia dapat menjadi salah satu pusat ekonomi digital yang berdaya saing di Asia Tenggara.

5. Kesimpulan

Digital Business Law bukan sekadar perangkat hukum, melainkan fondasi kepercayaan dalam dunia bisnis digital. Keberadaannya memastikan setiap transaksi berjalan dengan aman, adil, dan sesuai etika. Di tengah arus digitalisasi yang semakin pesat, pemahaman dan kepatuhan terhadap hukum digital menjadi kunci utama bagi keberlanjutan dan kredibilitas bisnis di masa depan.

6. Daftar Pustaka

  • Indonesia. (2008). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58.

  • Indonesia. (2022). Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 185.

  • Kurniawan, D. (2023). Hukum Bisnis Digital: Perlindungan Konsumen dan Transaksi Elektronik di Era Digital Economy. Jakarta: Prenadamedia Group.

  • Raharjo, B. (2021). Aspek Hukum dalam Transaksi Elektronik dan E-Commerce di Indonesia. Bandung: Refika Aditama.

  • Susanto, A., & Pratama, R. (2020). Cyber Law dan Perlindungan Data Pribadi dalam Era Digital. Yogyakarta: Deepublish.

  • World Bank. (2023). Digital Economy and Regulation in Southeast Asia. Washington, D.C.: World Bank Group.

Penulis: Nuki Pratama & Novita Damayanti | Editor: Tim IT Bisnis Digital | Foto: Dokumentasi Pribadi

Categories
Artikel

Pendampingan Diversifikasi Olahan Ikan Gurame untuk Peningkatan Nilai Tambah Hasil Perikanan di Desa Tumiyang Banyumas

Poster Artikel Website (16)

Purwokerto, 24 Oktober 2025

Dalam rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tim dosen Telkom University Purwokerto melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan topik “Pendampingan Diversifikasi Olahan Ikan Gurame untuk Peningkatan Nilai Tambah Hasil Perikanan di Desa Tumiyang, Banyumas.” Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen universitas dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 22 Oktober 2025, bertempat di Kantor Kepala Desa Tumiyang, dihadiri oleh masyarakat setempat dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Desa Tumiyang. Acara ini berjalan lancar  dengan suasana penuh antusiasme dan kolaborasi antara akademisi dan masyarakat.

Tim pelaksana kegiatan diketuai oleh Kurnia Indah Sumunar, S.E., M.S.Ak., dengan anggota tim dosen Alfilia Hilda Rahmatika, S.M., M.M., CPHRM., CHRBP. dan Imam Adiyana, S.Stat., M.Si.. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Telkom University Purwokerto, yaitu Pandu Akbar Ramadhani, Nasywa Arlyn Syahbita, dan Naurah Qatrunnada, yang berperan aktif dalam proses pendampingan teknis serta dokumentasi kegiatan.

Program pendampingan ini berfokus pada diversifikasi produk olahan ikan gurame, dengan tujuan meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan Desa Tumiyang. Masyarakat mendapatkan pelatihan terkait pengolahan ikan gurame menjadi kerupuk ikan gurame yang memiliki daya simpan lebih lama dan potensi pasar yang lebih luas. Selain itu, tim dosen juga memberikan materi tentang strategi pemasaran digital dan pengemasan produk, agar hasil olahan memiliki daya saing di pasaran modern.

Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman tentang pentingnya inovasi dalam pengembangan usaha perikanan berkelanjutan. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan efek domino positif terhadap peningkatan ekonomi lokal.

Ketua pelaksana kegiatan, Kurnia Indah Sumunar, menyampaikan bahwa program ini merupakan wujud nyata kontribusi Telkom University Purwokerto dalam mendukung ekonomi kreatif berbasis potensi desa. “Kami berharap pendampingan ini dapat memberikan manfaat berkelanjutan, bukan hanya bagi pelaku usaha perikanan, tetapi juga membuka peluang wirausaha baru bagi masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan pengabdian ini mendapat dukungan penuh dari Kantor Pemerintah Desa Tumiyang, Masyarakat Desa Tumiyang, dan  Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Telkom University Purwokerto. LPPM Telkom University Purwokerto menegaskan bahwa kegiatan semacam ini akan terus digalakkan sebagai bagian dari strategi universitas dalam menciptakan sinergi antara dunia akademik dan masyarakat.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Telkom University Purwokerto berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, menjadi mitra perubahan, dan mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang berdampak nyata bagi kesejahteraan bersama.

Penulis: Novita Damayanti | Editor: Tim IT Bisnis Digital | Foto: Dokumentasi Pribadi

Categories
Artikel

Landasan dan Prinsip Penggunaan AI di Telkom University

 Purwokerto, 29 Oktober 2025

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi tonggak penting dalam transformasi pendidikan tinggi di era digital. Dalam konteks ini, Telkom University mengambil langkah strategis dengan menyusun pedoman penggunaan AI yang berlandaskan etika, keadilan, dan tanggung jawab akademik. Pedoman ini bukan sekadar panduan teknis, tetapi juga merupakan refleksi dari komitmen universitas untuk memastikan bahwa inovasi teknologi tetap selaras dengan nilai-nilai akademik dan integritas ilmiah yang menjadi fondasi pendidikan.

Pendahuluan

Kemajuan AI telah mengubah cara mahasiswa belajar, dosen mengajar, serta bagaimana proses asesmen dan evaluasi dilakukan di lingkungan perguruan tinggi. Teknologi ini menghadirkan peluang besar dalam peningkatan efisiensi, personalisasi pembelajaran, dan akses terhadap sumber pengetahuan tanpa batas. Namun, di balik potensi tersebut, terdapat pula tantangan serius yang harus diantisipasi mulai dari risiko pelanggaran integritas akademik, penyalahgunaan alat bantu AI dalam tugas atau ujian, hingga ketergantungan teknologi yang dapat menurunkan kualitas kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Telkom University menyadari bahwa kehadiran AI dalam dunia pendidikan perlu diimbangi dengan pemahaman etis dan prinsip tanggung jawab. Oleh karena itu, pedoman ini disusun sebagai langkah awal untuk memastikan setiap dosen dan mahasiswa mampu menggunakan AI secara bijak, proporsional, dan sesuai dengan semangat akademik. Pedoman ini bersifat dinamis, akan terus diperbarui seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan institusional yang berubah cepat.

Ruang Lingkup Penggunaan AI Pada Lingkungan Akademik

Pedoman ini berlaku bagi seluruh sivitas akademika Telkom University, dengan fokus utama pada dua kelompok utama pengguna: dosen dan mahasiswa. Dalam konteks akademik, penggunaan AI mencakup tiga ranah besar: pembelajaran, pengajaran, dan asesmen.

Pada ranah pembelajaran, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa memahami materi, menyusun tugas, melakukan diskusi, maupun mempersiapkan ujian dengan cara yang lebih efisien dan adaptif. Sementara pada ranah pengajaran, dosen dapat menggunakan AI untuk merancang materi ajar yang lebih menarik, menyiapkan umpan balik otomatis, hingga merancang strategi penilaian yang lebih objektif. Adapun dalam asesmen, AI berperan membantu proses penilaian maupun umpan balik terhadap hasil belajar mahasiswa secara cepat dan transparan.

Namun, pedoman ini tidak mencakup penggunaan AI dalam konteks administratif, riset institusional, maupun operasional manajemen kampus secara umum. Fokus utamanya tetap pada interaksi langsung antara dosen dan mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran. Pendekatan ini sejalan dengan kerangka Higher Education Act for AI (HEAT-AI) yang menekankan regulasi berbasis risiko serta penerapan kontekstual di lingkungan pendidikan tinggi.

Prinsip Dasar : SAFE – AI

Sebagai pijakan utama, Telkom University mengadopsi prinsip SAFE-AI — akronim dari Sustainability & Security, Accuracy, Fairness, dan Explainability. Prinsip ini tidak hanya menjadi panduan moral, tetapi juga operasional dalam memastikan bahwa penggunaan AI mendukung inovasi pembelajaran tanpa mengorbankan nilai-nilai keilmuan dan keadilan akademik.

  1. Sustainability & Security
    Pemanfaatan AI harus mendukung keberlanjutan mutu pendidikan serta menjamin keamanan data dan privasi sivitas akademika. Setiap penggunaan AI perlu menghindari risiko ketergantungan yang berlebihan, agar kemampuan berpikir kritis dan pembelajaran jangka panjang mahasiswa tetap berkembang.

  2. Accuracy
    Dalam konteks akademik, baik dosen maupun mahasiswa wajib menyadari bahwa hasil dari sistem AI tidak selalu sempurna dan bisa mengandung bias. Oleh karena itu, proses verifikasi dan validasi menjadi keharusan sebelum informasi dari AI dijadikan referensi atau bagian dari karya ilmiah. Sikap kritis dan selektif harus menjadi standar etika akademik baru di era digital.

  3. Fairness
    Prinsip keadilan menekankan bahwa akses terhadap teknologi AI harus merata bagi seluruh mahasiswa dan dosen. Telkom University berkomitmen mencegah ketimpangan digital dengan memastikan setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan AI dalam mendukung proses belajar mengajar.

  4. Explainability
    Transparansi menjadi kunci dalam penggunaan AI. Setiap hasil, rekomendasi, atau konten yang dihasilkan AI harus dapat dijelaskan dan dipahami oleh pengguna. Mahasiswa yang menggunakan AI dalam menyusun tugas, maupun dosen yang menggunakannya dalam menilai, wajib mampu menjelaskan proses serta dasar penggunaannya. Prinsip ini memastikan bahwa AI tidak menjadi “kotak hitam” (black box) yang meniadakan tanggung jawab manusia atas keputusan akademik.

Kesimpulan

Dengan pedoman ini, Telkom University berupaya membangun ekosistem pembelajaran yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan teknologi, tetapi juga kokoh secara etika dan nilai akademik. AI harus dipandang bukan sebagai pengganti intelektualitas manusia, melainkan sebagai alat bantu yang memperkuat proses belajar, meningkatkan kreativitas, dan memperluas wawasan.

Melalui penerapan prinsip SAFE-AI, universitas berharap dapat menumbuhkan budaya akademik yang inovatif sekaligus bertanggung jawab, di mana kecerdasan buatan menjadi mitra sejajar dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna, adil, dan berintegritas.

Daftar Pustaka 

  • Telkom University, “Telkom University Integrasi Jadi Kampus Berbasis AI,” Hive Telkom University, 2024.
  • AILO – Artificial Intelligence Learning and Optimization Center, “About AILO,” Telkom University, 2024.
  • AI Hub Indonesia and APJII, “Kolaborasi APJII dan Telkom University: Penguatan Literasi dan Etika Pemanfaatan AI di Kampus,” AI Hub Indonesia, 2024.
  • Kemdikbudristek, Panduan Etika dan Tata Kelola Kecerdasan Buatan di Perguruan Tinggi, 2024.
  • R. Temper, Higher Education Act for Artificial Intelligence (HEAT-AI), UNESCO Digital Education Report, 2025.

Penulis: Novita Damayanti | Editor: Tim IT Bisnis Digital | Foto: Canva

Categories
Artikel

Transparansi dan Deklarasi Penggunaan AI

Purwokerto, 17 Oktober 2025

Transparansi merupakan fondasi penting dalam menjaga kejujuran akademik di era perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Dengan keterbukaan terhadap penggunaan AI, Telkom University menegakkan budaya akademik yang etis, adil, dan bertanggung jawab, baik bagi mahasiswa maupun dosen.
Bab ini memberikan panduan praktis tentang bagaimana AI digunakan dan dideklarasikan secara terbuka dalam proses pembelajaran, penugasan, dan penilaian.

1. Deklarasi Penggunaan AI oleh Mahasiswa

Untuk menjaga transparansi, integritas, dan akuntabilitas dalam proses akademik, setiap mahasiswa wajib menyatakan secara terbuka peran AI yang digunakan dalam pengerjaan tugas atau karya ilmiah.

Mahasiswa diharapkan untuk:

  • Menjelaskan secara jelas kontribusi AI dalam proses pembuatan tugas.
  • Tidak menyamarkan hasil kerja AI sebagai karya pribadi.
  • Menghindari penggunaan AI dalam tugas reflektif, ujian terbuka, atau asesmen individu, kecuali dengan izin eksplisit dari dosen pengampu.

Mahasiswa disarankan mencantumkan setiap tahapan tugas yang melibatkan AI menggunakan panduan kata kunci yang diadaptasi dari Artificial Intelligence Disclosure (AID) Framework oleh Weaver (2024).

2. Daftar Kata Kunci Deklarasi Penggunaan AI oleh Mahasiswa

Kategori
Deskripsi Penggunaan AI
AI ToolsMenyebutkan nama, versi, dan tanggal penggunaan alat AI.
ConceptualizationAI membantu memunculkan ide atau topik awal tugas.
MethodologyAI menyusun langkah kerja atau struktur tugas.
Info CollectionAI mencari referensi atau meringkas bacaan.
Data CollectionAI membuat formulir atau kuesioner sederhana.
ExecutionAI menyusun draft atau outline tugas.
Data CurationAI menyusun tabel atau data hasil observasi.
Data AnalysisAI membaca grafik atau menjelaskan data dasar.
PrivacyDilarang memasukkan data pribadi ke platform AI publik.
InterpretationAI membantu menyimpulkan atau merangkum poin penting.
VisualizationAI membuat infografis, bagan, atau diagram.
Writing – EditingAI digunakan untuk koreksi tata bahasa atau struktur kalimat.
Writing – TranslationAI digunakan untuk menerjemahkan isi tugas.
Project ManagementAI membantu menjadwalkan atau membagi tugas kelompok.

Contoh Deklarasi Penggunaan AI oleh Mahasiswa

  • Artificial Intelligence Tool: Microsoft Copilot (akun Telkom University), ChatGPT (free), dan napkin.ai (free).
  • Conceptualization: ChatGPT digunakan untuk brainstorming alur presentasi.
  • Visualization: napkin.ai digunakan untuk membuat grafik perbandingan antara solusi A dan solusi B.
    Writing – Review &
  • Editing: Microsoft Copilot digunakan untuk mengubah narasi deskriptif menjadi ringkasan dalam bentuk poin-poin dan menuliskannya ke dalam slide PowerPoint.

Dosen dianjurkan untuk memberikan contoh format deklarasi AI di awal perkuliahan serta menyertakan panduan kata kunci yang relevan sesuai konteks mata kuliah.

3. Deklarasi Penggunaan AI oleh Dosen

Dosen juga memiliki peran penting dalam menjaga keterbukaan penggunaan AI di lingkungan akademik.
Apabila AI digunakan dalam penyusunan materi atau kegiatan pembelajaran, hal tersebut perlu disampaikan secara transparan kepada mahasiswa.

Dosen disarankan untuk menyampaikan deklarasi penggunaan AI apabila teknologi tersebut digunakan dalam:

  • Pengembangan materi pembelajaran (slide, handout, simulasi);

  • Penyusunan soal, rubrik, atau skenario penilaian;

  • Proses pemberian umpan balik (feedback) otomatis.

Deklarasi dapat disampaikan secara terbuka melalui kelas, Learning Management System (LMS), atau catatan pengantar materi.

Contoh Deklarasi Dosen:

“Beberapa ilustrasi dalam materi ini dibuat menggunakan bantuan AI (DALL·E) dan telah dikaji ulang oleh dosen sebelum digunakan dalam kelas.”

Deklarasi semacam ini mencerminkan keterbukaan dan tanggung jawab etis, sekaligus memberi contoh nyata kepada mahasiswa tentang penggunaan AI yang tepat dalam konteks akademik.

4. Persetujuan dan Batas Penggunaan AI

Jika pedoman penggunaan AI tidak disebutkan secara eksplisit dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS), asesmen, atau instruksi tugas, mahasiswa tidak diperbolehkan menggunakan AI atas inisiatif sendiri tanpa persetujuan dosen pengampu.

Untuk mencegah kesalahpahaman dan pelanggaran tidak disengaja:

Mahasiswa disarankan untuk mengonfirmasi terlebih dahulu kepada dosen jika ingin menggunakan AI dalam konteks yang belum diatur.

Dosen memiliki kewenangan penuh untuk memberikan izin, membatasi, atau melarang penggunaan AI berdasarkan tujuan pembelajaran dan tingkat risikonya.

Persetujuan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, antara lain:

  • Persetujuan eksplisit tertulis – disebutkan dalam RPS, LMS, atau instruksi tugas.
  • Persetujuan lisan dalam kelas – disepakati bersama seluruh peserta perkuliahan.
  • Respon langsung dosen – baik secara lisan maupun tertulis, atas pertanyaan mahasiswa.

Keterbukaan komunikasi antara mahasiswa dan dosen menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang adil, aman, dan etis di era digital.

Kesimpulan

Deklarasi penggunaan AI bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan praktik etika akademik yang menjunjung tinggi kejujuran dan tanggung jawab.
Dengan transparansi penggunaan AI, baik mahasiswa maupun dosen dapat membangun budaya belajar yang terbuka, inovatif, dan tetap berlandaskan integritas akademik.
Telkom University berkomitmen untuk menumbuhkan lingkungan akademik yang siap beradaptasi dengan teknologi, namun tetap menjaga nilai-nilai etika dan keadilan.

Daftar Pustaka

  • Weaver, S. (2024). Artificial Intelligence Disclosure (AID) Framework: Guidelines for Responsible AI Use in Academia. Oxford: Open AI Ethics Lab.
  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2023). Panduan Etika Penggunaan AI dalam Pendidikan Tinggi. Jakarta: Kemendikbudristek.
  • UNESCO. (2023). Guidance for Generative AI in Education and Research. Paris: UNESCO Publishing.
  • Telkom University. (2024). Kebijakan Etika Akademik dan Penggunaan Teknologi di Lingkungan Kampus. Bandung: Telkom University Press.
  • European Commission. (2021). Ethics Guidelines for Trustworthy Artificial Intelligence. Brussels: European Union.

Penulis: Nuki Pratama | Editor: Tim IT Bisnis Digital | Foto: Canva

Jl. D.I Panjaitan No. 128 Purwokerto 53147, Jawa Tengah – Indonesia

Telp

Email

: 0281-641629

Copyright ©2024 All Rights Reserved By Telkom University

Secret Link