Categories
Artikel

UMKM Go Digital: Pelatihan Pengelolaan Bisnis UMKM Berbasis Digital

Purwokerto, 11 Februari 2026

Di tengah perkembangan ekonomi digital yang semakin cepat, pelaku UMKM tidak hanya dituntut untuk memiliki produk yang baik, tetapi juga kemampuan dalam mengelola bisnis secara menyeluruh. Banyak UMKM memiliki potensi besar, namun masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan keuangan serta pengelolaan sumber daya usaha secara efektif. Inilah mengapa peningkatan kapasitas melalui pelatihan literasi keuangan dan pengelolaan sumber daya menjadi hal yang sangat penting dalam mendukung keberlanjutan UMKM berbasis digital.

Dalam menjalankan bisnis, pelaku UMKM tidak cukup hanya memahami cara menjual produk. Diperlukan pemahaman mengenai bagaimana mengatur arus kas, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, merencanakan pengembangan bisnis, serta mengelola sumber daya yang dimiliki agar lebih produktif dan efisien. Selain itu, di era digital saat ini, pengelolaan usaha juga perlu didukung dengan pemanfaatan teknologi digital agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Melalui kegiatan Pelatihan Pengelolaan Bisnis UMKM Berbasis Digital Telkom University Purwokerto bersama ASPIKMAS yang dilaksanakan pada 11 Februari 2026 di Aula Rachmat Efendi Telkom University Purwokerto, para peserta mendapatkan pembekalan materi mengenai literasi keuangan serta pengelolaan sumber daya manusia untuk UMKM berbasis digital. Pelatihan ini membantu pelaku UMKM memahami pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat sekaligus bagaimana mengoptimalkan sumber daya usaha agar bisnis dapat berkembang secara berkelanjutan di ekosistem digital.

Pengelolaan Keuangan UMKM Menjadi Kunci

Sebagai fondasi utama dalam membangun bisnis yang berkelanjutan, pengelolaan keuangan menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan UMKM di era digital saat ini. Di tengah persaingan bisnis yang semakin kompetitif dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, pelaku UMKM tidak hanya dituntut untuk mampu menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga harus mampu mengelola keuangan usaha secara tepat, terstruktur, dan berkelanjutan. Banyak UMKM yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang, namun masih menghadapi berbagai kendala dalam pengelolaan keuangan, mulai dari pencatatan transaksi yang belum rapi, pencampuran keuangan pribadi dan usaha, hingga belum adanya perencanaan keuangan yang matang. Kondisi tersebut seringkali menyebabkan bisnis terlihat berjalan baik dari sisi penjualan, namun secara finansial belum tentu berada dalam kondisi yang sehat.

Melihat kebutuhan tersebut, pelatihan Pengelolaan Bisnis UMKM Berbasis Digital yang diselenggarakan oleh Telkom University Purwokerto bersama ASPIKMAS menghadirkan materi yang berfokus pada penguatan literasi keuangan bagi pelaku UMKM. Pematerian ini disampaikan oleh Kurnia Indah Sumunar, S.E., M.S.Ak., selaku Dosen Bisnis Digital Telkom University Purwokerto. Materi ini menekankan pentingnya pemahaman literasi keuangan sebagai dasar dalam menjaga kestabilan arus kas usaha, meningkatkan efisiensi operasional, serta mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih tepat.

Literasi keuangan sendiri merupakan kemampuan pelaku usaha dalam memahami, mengelola, serta menggunakan keuangan usaha secara bijak dan terencana. Dengan literasi keuangan yang baik, pelaku UMKM dapat memahami perbedaan antara omzet dan keuntungan bersih, mengetahui kondisi arus kas usaha secara nyata, serta mampu menyusun strategi keuangan yang mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang. Tanpa pengelolaan keuangan yang baik, pelaku usaha berisiko mengalami kesulitan dalam menjaga stabilitas modal kerja, bahkan berpotensi mengalami kegagalan usaha meskipun memiliki produk yang berkualitas.

Dalam praktiknya, masih banyak pelaku UMKM yang menghadapi permasalahan dasar dalam pengelolaan keuangan, seperti belum adanya pencatatan transaksi yang konsisten, masih tercampurnya keuangan pribadi dengan keuangan usaha, serta penentuan harga jual yang belum didasarkan pada perhitungan biaya dan margin keuntungan yang jelas. Kondisi ini membuat pelaku usaha kesulitan dalam mengetahui posisi keuangan bisnis secara akurat serta menyulitkan dalam perencanaan pengembangan usaha ke depan.

Melalui materi literasi keuangan ini, pelaku UMKM didorong untuk mulai menerapkan pengelolaan keuangan yang lebih disiplin dan terstruktur. Beberapa langkah dasar yang ditekankan antara lain memisahkan keuangan pribadi dan usaha sebagai fondasi utama pengelolaan keuangan, melakukan pencatatan seluruh transaksi secara konsisten, menyusun laporan keuangan sederhana untuk memantau kondisi usaha, serta merencanakan pengeluaran dan target keuntungan secara realistis. Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti aplikasi pencatatan keuangan, Microsoft Excel, maupun sistem kasir digital juga diperkenalkan sebagai langkah awal digitalisasi pengelolaan keuangan UMKM.

Melalui penerapan pengelolaan keuangan yang baik, pelaku UMKM diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan modal, meminimalkan kesalahan administrasi, serta membangun kredibilitas usaha di mata mitra, investor, maupun lembaga keuangan. Pengelolaan keuangan yang sehat juga menjadi pondasi penting dalam mendukung transformasi digital bisnis secara menyeluruh.

Pelatihan ini menjadi salah satu langkah nyata dalam mendorong UMKM Banyumas agar tidak hanya kuat dari sisi produk dan pemasaran, tetapi juga memiliki fondasi keuangan yang sehat, terstruktur, dan siap berkembang di era digital yang semakin dinamis.

HRIS: Sistem Berbasis Digital untuk Pengelolaan SDM di UMKM

Sebagai lanjutan dari materi sebelumnya terkait literasi keuangan bagi UMKM, pembahasan kemudian lanjut pada aspek penting lainnya dalam pengelolaan bisnis, yaitu pengelolaan sumber daya manusia di era digital. Di era transformasi digital yang berkembang sangat cepat, pelaku UMKM tidak lagi hanya dituntut memiliki produk yang berkualitas, tetapi juga dituntut mampu mengelola bisnis secara lebih modern, efisien, dan berbasis data. Banyak UMKM yang memiliki potensi besar, namun masih menghadapi berbagai tantangan operasional, terutama dalam pengelolaan sumber daya manusia, pencatatan data karyawan, hingga proses administrasi yang masih dilakukan secara manual. Kondisi ini seringkali menyebabkan proses kerja menjadi lebih lambat, rawan kesalahan, dan sulit untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Melihat kebutuhan tersebut, pelatihan Pengelolaan Bisnis UMKM Berbasis Digital yang diselenggarakan oleh Telkom University Purwokerto bersama ASPIKMAS juga menghadirkan materi yang berfokus pada penguatan literasi digital bisnis, khususnya dalam pengelolaan SDM berbasis sistem digital. Pematerian disampaikan oleh Alfilia Hilda Rahmatika, S.M., M.M., CPHRM, CHRBP, selaku Dosen Bisnis Digital Telkom University Purwokerto.

Salah satu materi utama yang disampaikan adalah pemanfaatan Human Resources Information System (HRIS) sebagai solusi praktis untuk membantu UMKM mengelola data karyawan, absensi, penggajian, hingga monitoring kinerja secara lebih terstruktur dan efisien. Selain menyampaikan materi, Ibu Alfilia juga sedang melakukan riset penelitian terkait pengembangan sistem atau aplikasi HRIS yang dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan UMKM, sehingga diharapkan mampu menghadirkan solusi pengelolaan SDM yang lebih praktis, efisien, dan mudah diimplementasikan oleh pelaku usaha.

Melalui pemanfaatan sistem digital seperti HRIS, pelaku UMKM dapat mulai melakukan transformasi dari proses manual menuju sistem yang lebih terintegrasi. Digitalisasi ini tidak harus dimulai dari sistem yang mahal atau kompleks, tetapi dapat dimulai dari digitalisasi fondasi bisnis sesuai kebutuhan dan skala usaha. Dengan pengelolaan SDM yang lebih baik, UMKM diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi kesalahan administrasi, serta mendukung pengambilan keputusan bisnis berbasis data.

Pengelolaan UMKM di era digital menuntut perubahan pola pikir dari pengambilan keputusan berbasis intuisi menuju pengelolaan bisnis yang berbasis data. Melalui penerapan literasi keuangan yang baik, pelaku UMKM dapat memahami kondisi usaha secara nyata, menjaga stabilitas arus kas, serta merencanakan pengembangan bisnis secara lebih terarah. Di sisi lain, penerapan sistem digital seperti HRIS menjadi langkah strategis dalam membangun pengelolaan sumber daya manusia yang lebih rapi, efisien, dan profesional.

Dengan kombinasi pengelolaan keuangan yang disiplin dan pemanfaatan teknologi dalam manajemen SDM, UMKM tidak hanya mampu bertahan di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, tetapi juga memiliki fondasi yang kuat untuk berkembang, meningkatkan daya saing, dan naik kelas secara berkelanjutan di era digital.

Categories
Artikel

Memahami Pelanggan Lebih Dalam: Peran Customer Persona dalam Menentukan Arah Strategi Bisnis

Purwokerto, 09 Februari 2026

Di era perkembangan bisnis yang semakin ketat dan dinamis saat ini, memiliki produk yang berkualitas saja tidak lagi menjamin keberhasilan menjalankan suatu bisnis. Banyak beberapa bisnis – bisnis yang gagal namun bukan karena produknya memiliki kualitas buruk, tetapi karena produk tersebut tidak benar-benar menjawab kebutuhan pasar. Inilah mengapa memahami Market Need (Kebutuhan Pasar) menjadi fondasi utama dalam membangun strategi bisnis yang berkelanjutan.

Dalam memahami pasar bukan juga sekadar mengetahui “siapa yang membeli”. Diperlukan juga memahami mengapa mereka membeli, kapan mereka membeli, bagaimana mereka mengambil keputusan, dan masalah apa yang sebenarnya ingin mereka selesaikan dari produk atau bisnis yang dimaksud. Untuk menjawab semua pertanyaan ini secara sistematis dan efisien, digunakanlah pendekatan Customer Persona.

Customer persona dapat membantu perusahaan/bisnis mengubah data pasar yang abstrak menjadi gambaran manusia nyata yang bisa dipahami oleh seluruh tim, mulai dari marketing, produksi, hingga customer service.

Apa Itu Market Need dan Mengapa Penting?

Market Need adalah kebutuhan, keinginan, atau masalah yang dirasakan oleh kelompok pelanggan tertentu yang bisa diselesaikan oleh produk atau layanan bisnis Anda. Market Need penting karena merupakan pendorong utama keputusan pembelian, di mana produk/jasa difungsikan untuk memecahkan masalah tersebut. Mengidentifikasi kebutuhan pasar dapat membantu perusahaan menciptakan produk relevan, membedakan diri dari pesaing, dan memastikan keberhasilan bisnis. 

Market need biasanya muncul dari:

  • Perubahan gaya hidup masyarakat
  • Perkembangan teknologi
  • Perubahan tren sosial dan budaya
  • Masalah yang belum terselesaikan oleh produk yang ada

Bisnis yang sukses biasanya tidak hanya mengikuti tren, tetapi mampu:

  • Mengidentifikasi kebutuhan tersembunyi (latent needs)
  • Memprediksi kebutuhan masa depan
  • Memberikan solusi yang lebih mudah, cepat, atau murah dibanding kompetitor
Contohnya:
  • Ojek online muncul karena kebutuhan transportasi cepat dan praktis
  • E-wallet muncul karena kebutuhan transaksi non-tunai yang cepat
  • Ready-to-eat food muncul karena kebutuhan makanan praktis di gaya hidup sibuk

Contoh Customer Persona

Customer Persona

Customer persona adalah representasi dari profil pelanggan ideal yang dibuat berdasarkan data nyata dan riset pasar. Ini menggambarkan profil detail, seperti demografi (usia, lokasi), perilaku, motivasi, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi. Tujuannya adalah untuk memahami audiens secara mendalam, membantu penyesuaian strategi pemasaran, produk, dan layanan agar lebih relevan. 

Persona berfungsi untuk:

  • Membantu bisnis memahami pelanggan secara emosional dan rasional
  • Membuat strategi marketing lebih terarah
  • Mengurangi trial-error dalam pengembangan produk
  • Menyamakan persepsi antar tim internal
Komponen Utama Customer Persona

Dalam memahami target pasar secara lebih mendalam, bisnis tidak hanya melihat siapa pelanggan mereka, tetapi juga bagaimana mereka berpikir, bertindak, serta apa yang mereka butuhkan dan hadapi. Oleh karena itu, customer persona umumnya disusun melalui beberapa komponen utama yang saling melengkapi, yaitu demografi, psikografis, behavioral, goals, serta challenges atau pain points.

1. Demografi (Siapa Mereka Secara Data)

Demografi merupakan dasar awal dalam memahami pelanggan karena berisi data objektif yang membantu proses segmentasi pasar.

Contoh informasi:

  • Usia → memengaruhi gaya komunikasi dan preferensi produk
  • Gender → bisa memengaruhi kebutuhan spesifik
  • Lokasi → memengaruhi daya beli dan budaya konsumsi
  • Pekerjaan → memengaruhi kebutuhan produk dan waktu penggunaan
  • Pendapatan → menentukan pricing strategy

Melalui data demografi, bisnis dapat menentukan pasar mana yang paling realistis dan potensial untuk disasar.

2. Psikografis (Bagaimana Cara Mereka Berpikir)

Selanjutnya, psikografis memberikan gambaran yang lebih dalam karena berkaitan dengan cara pelanggan berpikir dan faktor emosional yang memengaruhi keputusan mereka.

Contoh:

  • Nilai hidup (contoh: hemat, premium lifestyle, sustainability)
  • Gaya hidup (aktif, sibuk, santai, digital savvy)
  • Minat dan hobi
  • Kepribadian

Hal ini penting karena keputusan membeli seringkali emosional, bukan logis.

3. Behavioral (Bagaimana Mereka Bertindak)

Komponen ini berfokus pada bagaimana pelanggan bertindak secara nyata.

Contoh:

  • Seberapa sering belanja
  • Platform favorit (TikTok, Instagram, Marketplace, dll)
  • Cara mencari informasi (review, influencer, rekomendasi teman)
  • Loyalitas terhadap brand
  • Ini sangat penting untuk menentukan:
  • Channel marketing utama
  • Timing promosi
  • Strategi retargeting

Data behavioral sangat membantu bisnis dalam menentukan channel marketing utama, waktu terbaik untuk promosi, serta strategi retargeting yang lebih efektif.

4. Goals (Apa yang Ingin Mereka Capai)

Selain memahami karakteristik dan perilaku pelanggan, bisnis juga perlu mengetahui goals atau tujuan yang ingin dicapai pelanggan. Biasanya berisi:

  • Tujuan praktis → hemat waktu, hemat uang
  • Tujuan emosional → merasa percaya diri, terlihat modern
  • Tujuan sosial → ingin terlihat up-to-date

Dari Goals diatas dapat menunjukkan bahwa produk yang berhasil biasanya tidak hanya menjual fungsi, tetapi juga membantu pelanggan mencapai tujuan pribadi mereka.

5. Challenges / Pain Points (Apa yang Menghambat Mereka)

Pada komponen ini dijelaskan hambatan atau masalah yang sering dihadapi pelanggan dalam mencapai tujuan mereka, terutama terkait produk atau layanan suatu bisnis.

Contoh pain points:

  • Produk terlalu mahal
  • Proses penggunaan ribet
  • Tidak percaya brand
  • Pengalaman buruk sebelumnya

Dengan memahami pain points, bisnis dapat merancang solusi yang lebih tepat sasaran dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Manfaat Strategis Customer Persona untuk Bisnis

1. Produk Lebih Tepat Sasaran:Tim produksi dapat membuat produk ataupun merancang fitur layanan yang benar-benar dibutuhkan oleh pelanggan, bukan hanya berdasarkan asumsi bahwa produk tersebut menarik atau inovatif. Dengan demikian, proses pengembangan menjadi lebih efektif dan memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi di pasar.

2. Efisiensi Budget Marketing: Selain itu, strategi pemasaran juga menjadi lebih efisien. Ketika target audiens sudah jelas, aktivitas iklan dapat difokuskan pada segmen yang paling potensial. Hal ini berdampak pada meningkatnya ROI (Return on Investment) karena biaya pemasaran digunakan secara lebih optimal, sekaligus menurunkan cost per acquisition.

3. Komunikasi Lebih Personal: Dari sisi komunikasi, pemahaman karakteristik pelanggan membuat pesan pemasaran terasa lebih personal dan relevan. Konten yang dibuat seolah berbicara langsung kepada kebutuhan dan masalah pelanggan, sehingga meningkatkan engagement dan peluang bisnis.

4. Sinkronisasi Antar Tim: Dengan gambaran pelanggan yang sama, tim produk, marketing, hingga operasional dapat mengambil keputusan yang lebih selaras dan konsisten dengan arah bisnis perusahaan.

Cara Praktis Menerapkan Customer Persona dalam Bisnis

1. Mengumpulkan Data

Sumber data:

  • Survey pelanggan
  • Interview langsung
  • Data transaksi
  • Insight media sosial
  • Google Analytics

2. Temukan Pola Pelanggan

Cari kesamaan:

  • Motivasi beli
  • Pain points utama
  • Platform favorit
  • Faktor pengambilan keputusan

3. Membuat Profil Persona

Biasanya berisi:

  • Nama fiktif
  • Foto ilustrasi
  • Background cerita singkat
  • Goals
  • Pain points
  • Preferensi media

4. Gunakan di Semua Strategi Bisnis

Persona dapat dipakai untuk:

  • Campaign marketing
  • Product development
  • Pricing strategy
  • Customer experience

Memahami market need tanpa customer persona ibarat melihat pasar dari jauh tanpa memahami siapa yang ada di dalamnya. Customer persona membantu bisnis masuk ke perspektif pelanggan, memahami kebutuhan mereka secara nyata, dan menciptakan solusi yang benar-benar relevan.

Bisnis yang memahami pelanggannya secara mendalam bukan hanya bisa menjual produk, tetapi juga bisa membangun hubungan jangka panjang, loyalitas, dan keunggulan kompetitif yang sulit ditiru dalam persaingan bisnis.

Categories
Artikel

LKS Pemasaran Banyumas 2026: Inovasi Live Streaming di Dealer Yamaha Jadi Lomba Berbasis Industri Pertama

Purwokerto, 04 Januari 2026

Dunia pendidikan vokasi di Kabupaten Banyumas mencatatkan tonggak sejarah baru melalui penyelenggaraan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Bidang Pemasaran (Digital Marketing) tahun 2026. Kompetisi yang berlangsung pada 28-29 Januari 2026 di Kota Purwokerto ini tidak hanya menjadi ajang seleksi menuju tingkat Provinsi Jawa Tengah, tetapi juga menampilkan terobosan konsep integrasi langsung dengan industri. Sebanyak 11 SMK negeri dan swasta turut berpartisipasi dalam format kompetisi yang inovatif ini. angkatan pertama dari Program Studi Bisnis Digital. Momen ini menjadi tonggak awal perjalanan prodi dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan dunia bisnis berbasis teknologi digital.

Konsep Unik: Arena Kompetisi di Tengah Ritel Otomotif

Berbeda dengan 31 bidang lomba lainnya dalam LKS, kompetensi Pemasaran menjadi satu-satunya yang digelar langsung di lokasi mitra industri, yaitu Sentral Yamaha Purwokerto (CV Teguh Putera Mandiri). Menurut Agung Pambudi, S.E, S.Kom., M.M., Ketua MKKS SMK Kabupaten Banyumas, langkah ini merupakan bentuk aktualisasi nyata dari manajemen talen. “Dengan pelaksanaan langsung di dunia industri, sekat antara teori di kelas dan realitas praktik kerja menjadi hilang. Atmosfer kompetisi yang tercipta pun lebih autentik dan menantang bagi peserta,” jelasnya.

Dukungan penuh dari mitra industri juga ditekankan oleh Sigit Arif Suryantoro, S.E., M.Pd., Ketua MGMP Pemasaran Kabupaten Banyumas. “Kehadiran dan kolaborasi dengan CV Teguh Putera Mandiri, sebagai dealer utama Yamaha, memberikan pengalaman yang sangat berharga dan langsung (hands-on) bagi peserta. Inovasi ini memaMomentum wisuda ini menjadi simbol dimulainya kontribusi nyata lulusan Program Studi Bisnis Digital bagi dunia profesional. Para lulusan diharapkan mampu terus mengembangkan diri, menjaga integritas, serta berperan aktif dalam menciptakan solusi dan peluang di bidang bisnis digital.

Uji Nyata Kreativitas: Live Streaming Selling di TikTok 

Puncak keseruan kompetisi terlihat ketika seluruh peserta secara serentak melakukan Live Streaming Selling di TikTok, yang berlangsung langsung di area showroom Yamaha. Melalui sesi ini, kepercayaan diri dan kreativitas para calon pemasar digital diuji dalam mempromosikan unit kendaraan roda dua secara nyata. Drs. Witoto, Kepala SMK Negeri 1 Purwokerto, yang turut menyaksikan langsung, menyampaikan apresiasinya. “Antusiasme dan performa yang ditunjukkan peserta menggambarkan kesiapan mental dan keterampilan mereka sebagai calon tenaga pemasar digital yang andal. Kemampuan menguasai platform media sosial secara profesional ini menjadi aset berharga di era ekonomi digital,” ujarnya.

Standar Nasional dalam Penilaian, Siap Berlaga di Tingkat Tinggi

Untuk memastikan kualitas juara yang berdaya saing, panitia melibatkan tim juri yang terdiri dari berbagai lintas sektor, mencakup praktisi nasional, perwakilan industri, dan akademisiAhmad Madani, Praktisi dan Juri LKS Nasional, menjelaskan bahwa skema penilaian yang diterapkan di tingkat kabupaten sengaja diselaraskan dengan standar nasional. “Hal ini bertujuan agar perwakilan dari Banyumas yang akan maju ke tingkat provinsi dan nasional telah memiliki bekal dan keunggulan kompetitif yang memadai,” terang Madani.

Proses penilaian yang komprehensif ini diperkuat dengan kehadiran Muhammad Hasan (Kepala Divisi Digital Marketing Sentral Yamaha) sebagai representasi praktisi industri, dan Muhammad Eka Purbaya (Dosen Universitas Telkom Purwokerto) yang membawa perspektif akademis. Kolaborasi keduanya memastikan bahwa setiap aspek penilaian—mulai dari penyusunan strategi konten, kreativitas presentasi, hingga teknik komunikasi—telah melalui telaah yang mendalam dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja serta keilmuan. 

Penutup

LKS Pemasaran Banyumas 2026 telah membuktikan bahwa inovasi dalam penyelenggaraan kompetisi siswa, melalui kolaborasi erat dengan industri, tidak hanya mempertajam kemampuan teknis peserta tetapi juga membangun mentalitas dan pengalaman lapangan yang tak ternilai. Terobosan ini diharapkan dapat menjadi model dan inspirasi bagi pengembangan pendidikan vokasi ke depan, dalam mencetak lulusan yang siap kerja, kreatif, dan berdaya saing tinggi di pasar global.

Categories
Artikel

Wisuda Angkatan 21 Program Studi Bisnis Digital Telkom University Purwokerto: Angkatan Pertama Penanda Sejarah

Purwokerto, 16 Desember 2025

Program Studi Bisnis Digital Telkom University Purwokerto mencatatkan sejarah penting melalui pelaksanaan Wisuda Angkatan 21 yang merupakan angkatan pertama dari Program Studi Bisnis Digital. Momen ini menjadi tonggak awal perjalanan prodi dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan dunia bisnis berbasis teknologi digital.

Sebagai angkatan pertama, mahasiswa Wisuda Angkatan 21 memiliki peran strategis dalam membentuk identitas dan citra Program Studi Bisnis Digital. Selama menempuh pendidikan, para mahasiswa tidak hanya menjalani proses akademik, tetapi juga turut beradaptasi dan berkembang bersama prodi yang masih dalam tahap penguatan sistem, kurikulum, serta budaya akademik. Hal ini menjadikan Angkatan 21 sebagai pelopor yang meletakkan fondasi awal bagi angkatan-angkatan selanjutnya.

Selama masa studi, mahasiswa dibekali dengan kurikulum yang mengintegrasikan ilmu bisnis dan teknologi digital. Pembelajaran difokuskan pada pengembangan kemampuan analisis bisnis, pemanfaatan teknologi digital, kewirausahaan, pemasaran digital, serta inovasi model bisnis. Berbagai kegiatan penunjang seperti proyek berbasis praktik, magang, dan pengabdian kepada masyarakat turut memperkaya pengalaman belajar mahasiswa.

Keberhasilan Wisuda Angkatan 21 tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, khususnya dosen dan tenaga kependidikan yang berperan aktif dalam membimbing mahasiswa sejak awal berdirinya program studi. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga menjadi faktor penting yang menguatkan mahasiswa dalam menyelesaikan studi tepat waktu dan dengan capaian yang membanggakan.

Sebagai lulusan pertama, para wisudawan dan wisudawati diharapkan mampu menjadi duta dan representasi kualitas Program Studi Bisnis Digital Telkom University Purwokerto di dunia kerja maupun masyarakat. Mereka diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga karakter adaptif, inovatif, dan berjiwa kepemimpinan, sesuai dengan kebutuhan industri digital yang terus berkembang.

Momentum wisuda ini menjadi simbol dimulainya kontribusi nyata lulusan Program Studi Bisnis Digital bagi dunia profesional. Para lulusan diharapkan mampu terus mengembangkan diri, menjaga integritas, serta berperan aktif dalam menciptakan solusi dan peluang di bidang bisnis digital.

Melalui kelulusan Angkatan 21 sebagai angkatan pertama, Program Studi Bisnis Digital Telkom University Purwokerto menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan menghasilkan lulusan yang unggul serta berdaya saing. Wisuda ini bukan hanya akhir dari masa studi, tetapi juga awal dari perjalanan panjang dalam membangun reputasi dan kontribusi prodi di tingkat nasional.

Categories
Artikel

Market Day Telkom University Purwokerto: Ajang Kreativitas, Kewirausahaan, dan Kolaborasi Mahasiswa

Purwokerto, 08 Desember 2025

Telkom University Purwokerto kembali menggelar Market Day,  acara ini diikuti oleh berbagai program studi dan menghadirkan beragam produk kreatif hasil karya mahasiswa, mulai dari makanan dan minuman, fashion, kerajinan tangan, hingga produk digital.

Apa Itu Market Day

Market Day Telkom University Purwokerto merupakan sebuah kegiatan kewirausahaan yang diselenggarakan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mempraktikkan ilmu bisnis secara langsung. Acara ini menghadirkan berbagai booth yang dikelola oleh mahasiswa dari berbagai program studi, di mana mereka menampilkan produk buatan sendiri, mulai dari makanan dan minuman, merchandise kreatif, hingga produk digital. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami proses bisnis secara menyeluruh dalam suasana yang nyata dan interaktif.

Tujuan Penyelenggaraan Market Day

Tujuan utama Market Day adalah memberikan pengalaman experiential learning bagi mahasiswa. Dalam kegiatan ini, mahasiswa dilatih untuk merancang produk, menyusun strategi pemasaran, mengelola modal, menentukan harga, dan memberikan pelayanan pelanggan secara langsung. Melalui praktik nyata di lapangan, mahasiswa dapat memahami bagaimana teori-teori bisnis yang dipelajari di kelas diterapkan dalam situasi sebenarnya. Selain itu, Market Day juga bertujuan menumbuhkan kreativitas, jiwa inovatif, serta kemampuan mahasiswa dalam berkolaborasi dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar.

Contoh Brand dari Mahasiswa

Market Day menghadirkan berbagai brand mahasiswa yang menawarkan produk kreatif dan inovatif. Salah satunya adalah Matchae, brand minuman berbahan dasar matcha premium yang memadukan rasa autentik dengan konsep kemasan modern. Ada pula Tacorico, brand kuliner fusi yang menyajikan taco dengan isian bercita rasa lokal, menjadikannya salah satu booth dengan konsep paling menarik. Brand lainnya adalah Mr. Rollie, dessert egg roll manis yang disajikan dengan berbagai topping premium dan menjadi favorit banyak pengunjung. Kehadiran brand-brand ini menunjukkan tingginya kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan ide menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Manfaat Market Day bagi Mahasiswa

Market Day memberikan banyak manfaat, terutama dalam mengasah kemampuan praktik bisnis mahasiswa. Mereka belajar mengatur keuangan, memahami kebutuhan konsumen, dan menghadapi tantangan langsung seperti mengelola antrean, mengatasi stok yang habis, atau menyesuaikan strategi penjualan. Selain itu, kegiatan ini juga melatih kemampuan komunikasi, negosiasi, dan kerja sama tim. Melalui pengalaman ini, mahasiswa mendapatkan gambaran lebih realistis tentang dunia usaha dan menjadi lebih siap untuk membangun bisnis atau bekerja dalam lingkungan profesional setelah lulus.

Kesimpulan

Market Day Telkom University Purwokerto merupakan kegiatan penting yang tidak hanya menumbuhkan kreativitas dan semangat kewirausahaan mahasiswa, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan praktis yang relevan dengan dunia bisnis saat ini. Berbagai brand mahasiswa seperti Matchae, Tacorico, dan Mr. Rollie menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan inovasi yang menarik dan potensial. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, kampus semakin memperkuat budaya inovasi dan kemandirian, sekaligus mempersiapkan mahasiswa untuk bersaing di era industri digital yang kompetitif.

Categories
Artikel

STP Dalam Marketing: Strategi untuk Brand dapat Bertahan di Pasar Kompetitif

Poster Artikel Website (25)

Purwokerto, 01 Desember 2025

Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, memahami kebutuhan konsumen menjadi kunci keberhasilan sebuah merek. Salah satu strategi yang paling banyak digunakan dan dianggap paling efektif adalah STP Marketing, yaitu Segmentation, Targeting, Positioning. Konsep ini membantu perusahaan memahami siapa konsumen mereka, bagaimana memilih pasar terbaik, dan bagaimana menempatkan merek secara kuat dalam benak konsumen.

1. Apa Itu STP Menurut Para Ahli?

Beberapa ahli pemasaran memberikan definisi yang memperjelas konsep STP dalam dunia marketing:

  • Philip Kotler & Kevin Keller menyatakan bahwa STP adalah proses membagi pasar menjadi kelompok-kelompok konsumen, memilih segmen yang ingin dituju, lalu membangun citra produk yang memiliki posisi jelas di benak konsumen.

  • Lamb, Hair & McDaniel mendefinisikan STP sebagai kerangka kerja pemasaran yang bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelanggan secara lebih spesifik, menargetkan segmen yang paling menguntungkan, dan melakukan diferensiasi produk untuk menciptakan nilai unik.

  • William J. Stanton menjelaskan bahwa segmentasi, targeting, dan positioning merupakan cara perusahaan menemukan kelompok pasar yang homogen lalu menciptakan penawaran yang relevan dengan karakteristik kelompok tersebut.

Dari berbagai pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa STP membantu perusahaan mengembangkan strategi pemasaran yang lebih terarah sehingga pesan yang disampaikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan konsumennya.

2. Segmentasi: Cara Membagi Pasar Menjadi Kelompok yang Lebih Tepat

Segmentasi adalah tahap pertama dalam STP. Tujuannya adalah membagi pasar menjadi kelompok konsumen yang memiliki kesamaan kebutuhan, perilaku, atau karakteristik tertentu.

Menurut Kotler, segmentasi dapat dilakukan berdasarkan:

  • Demografis: usia, gender, pendapatan, pekerjaan, pendidikan.

  • Geografis: negara, provinsi, kota, iklim.

  • Psikografis: gaya hidup, minat, nilai hidup, kepribadian.

  • Perilaku: manfaat yang dicari, frekuensi pembelian, loyalitas, tingkat penggunaan.

Segmentasi yang baik harus memenuhi kriteria: dapat diukur, cukup besar, mudah dijangkau, dapat dibedakan, dan dapat ditindaklanjuti.

Dengan segmentasi yang tepat, perusahaan bisa lebih fokus dan efisien dalam merancang produk maupun kampanye pemasaran.

3. Targeting: Memilih Segmen Pasar yang Paling Menguntungkan

Setelah segmen terbentuk, perusahaan perlu memilih segmen mana yang paling potensial untuk dilayani. Proses ini disebut targeting.

Dalam memilih target pasar, perusahaan mempertimbangkan:

  • Ukuran segmen

  • Potensi pertumbuhan

  • Tingkat persaingan

  • Kesesuaian dengan kemampuan perusahaan

Ada beberapa strategi targeting yang umum digunakan:

  • Undifferentiated marketing: strategi massal, produk untuk semua orang.

  • Differentiated marketing: setiap segmen diberi produk berbeda.

  • Niche marketing: fokus pada segmen kecil yang sangat spesifik.

  • Micromarketing: penyesuaian untuk kelompok sangat kecil bahkan individu.

Targeting yang tepat membuat perusahaan tidak membuang waktu dan anggaran ke segmen yang kurang potensial.

4. Positioning: Menciptakan Citra Unik di Benak Konsumen

Positioning adalah proses membangun persepsi tertentu di dalam pikiran konsumen tentang keunggulan sebuah produk atau merek. Tujuannya adalah agar konsumen bisa membedakan produk kita dari produk kompetitor.

Menurut Kotler, positioning harus menjawab pertanyaan berikut:
“Mengapa konsumen harus memilih produk kita, bukan yang lain?”

Positioning dapat dilakukan berdasarkan:

  • Keunggulan produk

  • Manfaat yang diberikan

  • Harga dan kualitas

  • Penggunaan produk

  • Karakter pengguna

  • Perbandingan dengan pesaing

Positioning yang kuat menciptakan identitas merek yang mudah diingat dan dipercaya.

5. Contoh Penerapan STP di Indonesia: Indomie

Indomie adalah contoh sukses STP di Indonesia. Mereka memetakan pasar dari berbagai segmen: anak-anak, remaja, mahasiswa, pekerja, hingga keluarga. Indomie kemudian menargetkan konsumen yang membutuhkan makanan cepat saji dengan harga terjangkau.

Untuk positioning, Indomie menempatkan diri sebagai mie instan dengan cita rasa Indonesia yang enak, praktis, dan cocok untuk siapa saja. Hasilnya, Indomie bukan hanya produk makanan tetapi sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia.

6. Kenapa STP Penting untuk Bisnis?

Ada banyak alasan STP wajib diterapkan oleh brand:

  • Mempermudah bisnis memahami kebutuhan pelanggan

  • Menghemat biaya promosi karena lebih tepat sasaran

  • Meningkatkan peluang penjualan

  • Membantu brand menjadi lebih dikenal

  • Menciptakan hubungan jangka panjang dengan konsumen

Bisnis yang menerapkan STP dengan baik biasanya memiliki pesan marketing yang lebih kuat dan konsisten.

7. Kesimpulan

Secara keseluruhan, strategi STP (Segmentation, Targeting, Positioning) merupakan kerangka penting yang membantu perusahaan memahami pasar secara lebih mendalam, memilih segmen yang paling menguntungkan, dan menempatkan merek secara efektif di benak konsumen. Dengan segmentasi yang tepat, perusahaan dapat mengetahui kelompok pelanggan yang memiliki kebutuhan sama; melalui targeting, perusahaan dapat fokus pada segmen yang memiliki potensi terbesar; dan melalui positioning, perusahaan dapat membangun identitas merek yang kuat dan mudah diingat. Penerapan STP yang baik memungkinkan perusahaan meningkatkan relevansi pesan pemasaran, memperkuat loyalitas konsumen, dan menciptakan keunggulan kompetitif jangka panjang, sebagaimana terlihat pada keberhasilan Indomie dalam mendominasi pasar. Dengan demikian, STP bukan hanya strategi pemasaran, tetapi juga kunci untuk membangun hubungan yang berkelanjutan antara merek dan konsumennya.

8. Daftar Pustaka

  • Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th ed.). Pearson Education.
  • Lamb, C. W., Hair, J. F., & McDaniel, C. (2018). Marketing (13th ed.). Cengage Learning.
  • Stanton, W. J., Etzel, M. J., & Walker, B. J. (1994). Fundamentals of Marketing (10th ed.). McGraw-Hill.
  • Schiffman, L., & Kanuk, L. L. (2010). Consumer Behavior (10th ed.). Pearson.
  • Tjiptono, F. (2015). Strategi Pemasaran. Andi Offset.
Categories
Artikel

Business Model Canvas (BMC): Konsep, Komponen, dan Manfaat dalam Bisnis Digital

Purwokerto, 14 November 2025

1. Konsep Business Model Canvas (BMC) dalam Bisnis Digital

Business Model Canvas (BMC) adalah kerangka kerja strategis yang digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis model bisnis dalam satu tampilan visual yang komprehensif. Dalam konteks bisnis digital—yang ditandai oleh percepatan inovasi teknologi, perubahan perilaku konsumen online, serta persaingan yang sangat kompetitif—BMC berperan sebagai alat yang sangat penting untuk merancang model bisnis yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan pengguna. BMC memungkinkan perusahaan digital memahami bagaimana nilai diciptakan melalui platform, aplikasi, atau layanan digital (value creation), bagaimana nilai tersebut disampaikan kepada pengguna (value delivery), dan bagaimana nilai dikonversi menjadi pendapatan (value capture). Dengan pendekatan yang terstruktur dan mudah dipahami, BMC membantu pelaku bisnis digital merancang strategi yang lebih fleksibel, inovatif, dan berkelanjutan.


2. Komponen Business Model Canvas dalam Bisnis Digital

BMC terdiri dari sembilan komponen utama yang saling berhubungan dan berfungsi sebagai fondasi model bisnis. Dalam bisnis digital, komponen-komponen ini memiliki karakteristik yang lebih dinamis karena dipengaruhi oleh teknologi, data, dan perilaku pengguna internet.

a. Customer Segments (Segmen Pelanggan)

Dalam bisnis digital, segmentasi pelanggan dapat mencakup pengguna aplikasi, pembeli online, pengiklan, pembuat konten, hingga pengguna layanan freemium. Segmentasi biasanya dilakukan berdasarkan data (data-driven segmentation) seperti demografi digital, pola perilaku, minat, preferensi, dan aktivitas online. Pemahaman mendalam mengenai segmen pelanggan sangat penting untuk menyesuaikan produk digital dengan kebutuhan mereka.

b. Value Proposition (Proposisi Nilai)

Proposisi nilai dalam bisnis digital mencakup kemudahan akses 24/7, personalisasi berbasis data, kecepatan layanan, efisiensi, otomatisasi, pengalaman pengguna yang intuitif, serta inovasi teknologi seperti AI, cloud, dan aplikasi mobile. Proposisi nilai harus mampu memecahkan masalah pengguna digital secara cepat, efisien, dan konsisten.

c. Channels (Saluran Distribusi)

Saluran distribusi dalam bisnis digital meliputi website, aplikasi mobile, media sosial, marketplace digital, email, push notification, serta strategi SEO dan SEM. Channels ini digunakan untuk proses akuisisi, konversi, distribusi layanan, komunikasi, dan retensi pelanggan.

d. Customer Relationships (Hubungan Pelanggan)

Hubungan pelanggan dalam bisnis digital dibangun melalui layanan otomatis seperti chatbot, personalisasi konten berbasis data, komunitas digital (forum atau grup), layanan pelanggan omnichannel, serta program loyalitas berbasis digital. Hubungan yang kuat menjadi sangat penting karena biaya mempertahankan pelanggan (retention) lebih rendah dibandingkan memperoleh pelanggan baru (acquisition).

e. Revenue Streams (Arus Pendapatan)

Arus pendapatan dalam bisnis digital dapat berasal dari penjualan produk atau layanan digital, subscription, freemium to premium upgrade, iklan digital, komisi marketplace, lisensi teknologi, hingga in-app purchase. Beragamnya model pendapatan ini memberikan fleksibilitas untuk menyesuaikan strategi monetisasi dengan perilaku pengguna.

f. Key Resources (Sumber Daya Utama)

Sumber daya utama dalam bisnis digital biasanya meliputi platform teknologi seperti aplikasi dan website, data pengguna, tim developer dan IT, algoritma dan database, brand, komunitas pengguna, serta aset digital seperti desain UI/UX dan sistem keamanan.

g. Key Activities (Aktivitas Utama)

Aktivitas utama dalam bisnis digital mencakup pengembangan aplikasi atau website, maintenance dan update sistem, analisis data, digital marketing, cybersecurity, pengelolaan konten, dan quality assurance. Aktivitas-aktivitas ini mendukung kelancaran operasional dan kenyamanan pengguna.

h. Key Partnerships (Kemitraan Utama)

Bisnis digital sangat bergantung pada berbagai bentuk kemitraan seperti penyedia teknologi (cloud, payment gateway), platform iklan (Google Ads, Meta Ads), penyedia logistik untuk e-commerce, komunitas digital, influencer, hingga kolaborasi dengan startup lain. Kemitraan ini memperkuat ekosistem digital dan menekan biaya operasional.

i. Cost Structure (Struktur Biaya)

Struktur biaya dalam bisnis digital meliputi pengembangan aplikasi, server dan hosting, digital marketing, gaji tim IT dan kreatif, keamanan sistem, serta riset untuk inovasi teknologi. Biaya dalam bisnis digital lebih banyak berfokus pada teknologi dan pengembangan fitur dibandingkan produksi fisik.


3. Manfaat Business Model Canvas bagi Bisnis Digital

Penggunaan BMC memberikan berbagai manfaat strategis bagi bisnis digital. Pertama, BMC mempermudah visualisasi model bisnis karena seluruh elemen dapat dipresentasikan dalam satu halaman sehingga memudahkan pemetaan alur nilai dan strategi. Kedua, BMC mendukung pengambilan keputusan yang cepat, terutama dalam lingkungan digital yang sangat dinamis. Ketiga, BMC membantu proses validasi ide dalam pendekatan Lean Startup, sehingga startup dapat menguji hipotesis tanpa mengeluarkan biaya besar. Keempat, BMC meningkatkan kolaborasi tim karena menjadi alat komunikasi yang mudah dipahami oleh berbagai departemen seperti bisnis, developer, dan UI/UX. Kelima, BMC berfungsi sebagai alat pitching yang efektif bagi investor karena mampu menggambarkan model bisnis secara ringkas namun strategis. Keenam, BMC membantu bisnis digital fokus pada value creation berbasis teknologi, sehingga mampu menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

4. Keunggulan Business Model Canvas

Beberapa manfaat penggunaan Business Model Canvas (BMC) dalam bisnis digital antara lain:

  • Visual dan mudah dipahami, karena seluruh elemen model bisnis ditampilkan dalam satu halaman, sehingga mempermudah proses analisis dan komunikasi antar tim.

  • Fleksibel, memungkinkan model bisnis diperbarui dengan cepat sesuai perubahan teknologi, tren digital, dan kebutuhan pengguna.

  • Efektif untuk brainstorming, terutama pada startup dan UMKM digital yang membutuhkan eksplorasi ide secara cepat dan kolaboratif.

  • Komprehensif namun ringkas, karena mencakup semua komponen inti bisnis tanpa membutuhkan dokumen yang panjang.

  • Cocok untuk berbagai jenis bisnis, mulai dari usaha kecil berbasis digital hingga perusahaan teknologi besar yang melakukan inovasi atau transformasi digital.


5. Penerapan BMC dalam Bisnis Modern

Business Model Canvas banyak digunakan dalam berbagai proses strategis, khususnya di sektor bisnis digital, seperti:

  • Penyusunan dan pengembangan bisnis digital baru, misalnya aplikasi mobile, platform e-commerce, fintech, atau layanan berbasis web.

  • Pitch deck untuk investor, karena BMC dapat menjelaskan model bisnis secara ringkas, visual, dan mudah dipahami.

  • Perancangan produk dan layanan digital, termasuk pengembangan fitur dan peningkatan pengalaman pengguna (UX).

  • Transformasi digital perusahaan, untuk memetakan pergeseran model bisnis dari konvensional ke digital.

  • Analisis pesaing dan pemetaan strategi, sehingga perusahaan dapat melihat posisi mereka dalam ekosistem digital dan menentukan langkah pengembangan yang tepat.

6. Kesimpulan

Business Model Canvas merupakan alat strategis yang sangat penting dalam merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi bisnis digital. Dengan sembilan komponen inti yang saling terintegrasi, BMC membantu perusahaan memvisualisasikan bagaimana nilai diciptakan melalui teknologi, bagaimana hubungan dengan pengguna dibangun, serta bagaimana pendapatan dihasilkan secara berkelanjutan. Di era digital yang serba cepat, BMC menjadi panduan efektif bagi bisnis untuk beradaptasi, berinovasi, dan bertumbuh di tengah persaingan yang semakin ketat.

7. Daftar Pustaka

  • Osterwalder, A., & Pigneur, Y. (2010). Business Model Generation. John Wiley & Sons.
  • Osterwalder, A., Pigneur, Y., Bernarda, G., & Smith, A. (2014). Value Proposition Design. Wiley.
  • Blank, S. (2013). Why the Lean Start-Up Changes Everything. Harvard Business Review.
  • Kotler, P., Kartajaya, H., & Setiawan, I. (2017). Marketing 4.0: Moving from Traditional to Digital. Wiley.
  • Magretta, J. (2002). Why Business Models Matter. Harvard Business Review.
  • Laudon, K. C., & Traver, C. G. (2021). E-Commerce: Business, Technology, Society. Pearson.
    Chaffey, D. (2015). Digital Business and E-Commerce Management. Pearson.
Categories
Artikel

Analisis SWOT dalam Bisnis: Pengertian, Tujuan, dan Penerapannya

51

Purwokerto, 12 November 2025

1. Pengertian Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah salah satu alat strategis yang digunakan untuk memahami kondisi internal dan eksternal suatu organisasi atau bisnis. SWOT merupakan singkatan dari Strengths (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan), Opportunities (Peluang), dan Threats (Ancaman). Melalui analisis ini, perusahaan dapat mengevaluasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja bisnis, baik dari dalam maupun luar organisasi, sehingga dapat menentukan strategi yang tepat untuk mencapai tujuan.

Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Albert Humphrey pada tahun 1960-an di Stanford Research Institute. Tujuannya adalah membantu organisasi dalam merumuskan strategi bisnis berdasarkan pemahaman menyeluruh terhadap kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan ancaman dari lingkungan eksternal. Hingga saat ini, analisis SWOT masih digunakan secara luas dalam berbagai bidang, terutama dalam perencanaan dan pengambilan keputusan bisnis.

2. Tujuan dan Manfaat Analisis SWOT dalam Bisnis

Analisis SWOT memiliki tujuan utama untuk membantu organisasi memahami posisi strategisnya di pasar dan menyusun rencana tindakan yang realistis. Dalam konteks bisnis, analisis ini berguna untuk mengidentifikasi faktor internal yang mendukung keunggulan kompetitif serta mengenali potensi perbaikan di area yang masih lemah.

Selain itu, dengan memahami peluang dan ancaman dari luar, perusahaan dapat merespons perubahan pasar dengan cepat dan tepat. Misalnya, perusahaan dapat memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pemasaran, atau mengantisipasi ancaman dari meningkatnya persaingan di industri sejenis. Dengan demikian, SWOT menjadi dasar penting dalam merumuskan strategi jangka pendek maupun jangka panjang.

3. Komponen-Komponen Analisis SWOT

Analisis SWOT terdiri dari empat komponen utama: kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.

  • Kekuatan (Strengths) mencakup keunggulan internal perusahaan, seperti kualitas produk yang baik, sumber daya manusia yang kompeten, teknologi modern, dan reputasi merek yang kuat.
  • Kelemahan (Weaknesses) adalah faktor internal yang menjadi kendala dalam mencapai tujuan bisnis, seperti keterbatasan modal, kurangnya inovasi, atau strategi pemasaran yang belum optimal.
  • Peluang (Opportunities) merujuk pada kondisi eksternal yang dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan, misalnya tren pasar yang positif, kemajuan teknologi, atau kebijakan pemerintah yang mendukung.
  • Sementara itu, Ancaman (Threats) adalah faktor eksternal yang dapat menimbulkan risiko, seperti munculnya pesaing baru, perubahan regulasi, krisis ekonomi, atau pergeseran preferensi konsumen.

Dengan memahami keempat aspek ini, perusahaan dapat merancang strategi yang lebih efektif dan berorientasi pada keberlanjutan bisnis.

4. Contoh Penerapan Analisis SWOT dalam Bisnis

Sebagai contoh, pada bisnis kuliner lokal, sebuah restoran dapat mengidentifikasi kekuatan berupa cita rasa khas dan bahan baku yang segar. Namun, restoran tersebut memiliki kelemahan pada aspek promosi digital yang belum optimal. Sementara itu, terdapat peluang berupa meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan tradisional, dan ancaman dari banyaknya pesaing baru yang menawarkan menu serupa.

Dari hasil analisis tersebut, strategi yang dapat diterapkan adalah meningkatkan promosi melalui media sosial, memperluas layanan pesan antar, serta memperkuat hubungan pelanggan melalui program loyalitas. Dengan strategi yang tepat, analisis SWOT membantu bisnis untuk terus beradaptasi dengan perubahan pasar dan menjaga daya saingnya.

5. Langkah-Langkah Melakukan Analisis SWOT

Untuk melakukan analisis SWOT secara efektif, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan data relevan dari berbagai sumber, seperti laporan keuangan, riset pasar, serta survei kepuasan pelanggan. Setelah itu, identifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi bisnis.

Langkah berikutnya adalah menuliskan hasil identifikasi tersebut dalam bentuk matriks SWOT, sehingga hubungan antar unsur dapat terlihat dengan jelas. Dari matriks tersebut, perusahaan dapat mengembangkan empat jenis strategi utama, yaitu:

  • Strategi SO (Strength-Opportunity): menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang.
  • Strategi WO (Weakness-Opportunity): memperbaiki kelemahan dengan memanfaatkan peluang.
  • Strategi ST (Strength-Threat): memanfaatkan kekuatan untuk menghadapi ancaman.
  • Strategi WT (Weakness-Threat): mengurangi kelemahan dan menghindari ancaman.

Pendekatan ini memungkinkan organisasi untuk menyesuaikan strategi bisnisnya sesuai kondisi yang dihadapi.

6. Kesimpulan

Analisis SWOT merupakan alat penting dalam perencanaan strategis bisnis yang berfungsi untuk mengevaluasi faktor internal dan eksternal perusahaan. Dengan memahami kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, organisasi dapat menyusun strategi yang lebih efektif, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Dalam dunia bisnis yang kompetitif, kemampuan melakukan analisis SWOT dengan baik dapat membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih bijak dan mempertahankan keunggulan kompetitif di pasar.

7. Daftar Pustaka

  • David, F. R. (2017). Strategic Management: Concepts and Cases. Pearson Education.
  • Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th ed.). Pearson Education.
  • Gurel, E., & Tat, M. (2017). SWOT Analysis: A Theoretical Review. The Journal of International Social Research, 10(51), 994–1006.
  • Panagiotou, G. (2003). Bringing SWOT into Focus. Business Strategy Review, 14(2), 8–10.
  • Helms, M. M., & Nixon, J. (2010). Exploring SWOT Analysis – Where Are We Now? Journal of Strategy and Management, 3(3), 215–251.
Categories
Artikel

Optimalisasi Penggunaan Platform Digital Untuk Berbisnis

Poster Artikel Website (23)

Purwokerto, 29 Oktober 2025

Dalam upaya meningkatkan kompetensi digital civitas akademika dan pelaku UMKM, dosen Telkom University Purwokerto menggelar workshop bersama dengan Asosiasi Pengusaha Mikro, Kecil, dan Menengah Kabupaten Banyumas ( ASPIKMAS ) yang bertajuk “Optimalisasi Penggunaan Platform Digital Untuk Berbisnis”. Kegiatan ini dipandu oleh tim dosen yang terdiri dari Lina Fatimah Lishobrina, S.A.B., M.M., Ade Yanyan Ramdhani, S.T., M.T., dan Yosita Dwiani S., S.Pi., M.Si.

Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai strategi pemanfaatan platform TikTok sebagai sarana promosi digital yang efektif, kreatif, dan relevan dengan tren pemasaran masa kini. Workshop ini menjadi bagian dari program penguatan literasi digital dan pengembangan kewirausahaan mahasiswa maupun pelaku UMKM di era ekonomi kreatif.

Langkah – langkah Strategis dalam Optimalisasi Tiktok

Melalui workshop ini, peserta diperkenalkan pada delapan langkah utama dalam mengoptimalkan penggunaan TikTok sebagai media branding dan promosi, yaitu:

  1. Menentukan Tujuan dan Audiens
    Peserta diajak menentukan arah konten — apakah untuk brand awareness, penjualan, edukasi, atau hiburan. Selain itu, mereka belajar mengenali karakter audiens berdasarkan usia, minat, dan waktu aktif.

  2. Riset Konten dan Tren
    Penggunaan fitur Discover dan hashtag trending menjadi dasar untuk memahami tren terbaru. Peserta diminta mengamati lima konten teratas di niche mereka untuk menemukan pola sukses yang bisa diadaptasi.

  3. Perencanaan Konten (Content Pillars)
    Peserta membuat 3–4 pilar konten seperti edukasi, testimonial, behind the scenes, atau hiburan. Setiap pilar disusun dalam kalender konten mingguan agar konsisten dan terukur.

  4. Produksi Video dan Teknik Dasar
    Peserta diberi panduan tentang durasi ideal (15–45 detik), penggunaan pencahayaan alami, serta teknik pengambilan gambar dengan tripod untuk hasil yang stabil dan profesional.

  5. Editing Cepat dan Hook Menarik
    Fokus diberikan pada pembukaan video (hook) dalam 3 detik pertama untuk menarik perhatian. Peserta mempraktikkan teknik jump cuts, penambahan teks singkat, serta caption pendukung.

  6. Optimasi Posting
    Pembahasan mencakup pembuatan caption singkat dengan ajakan bertindak (CTA), pemilihan hashtag relevan (3–5 kombinasi niche dan tren), serta uji waktu posting untuk hasil maksimal.

  7. Analitik dan Iterasi
    Peserta diperkenalkan pada metrik penting seperti views, watch time, dan engagement rate. Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi format yang efektif dan mengembangkan strategi baru.

  8. Growth Hacks dan Kolaborasi
    Ditekankan pentingnya kolaborasi dengan kreator lain melalui fitur duet atau stitch, serta pemanfaatan user generated content (UGC) untuk membangun social proof dan meningkatkan kepercayaan audiens.

Pendekatan Praktis dan Interaktif

Workshop ini tidak hanya berisi teori, tetapi juga menghadirkan sesi praktik langsung yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing peserta. Karena setiap peserta memiliki bidang bisnis yang berbeda, kegiatan praktik dilakukan secara individual agar strategi konten yang dihasilkan lebih relevan dengan kebutuhan usaha masing-masing. Peserta berlatih menentukan tujuan dan audiens, melakukan brainstorming ide konten, memilih konten yang sesuai dengan bisnis mereka, melakukan proses editing cepat menggunakan template capcut, serta mempublikasikan hasilnya di akun Tiktok masing-masing peserta. Melalui pendekatan ini, peserta memperoleh pengalaman nyata dalam menciptakan konten yang sesuai dengan identitas bisnis mereka

Penulis: Novita Damayanti & Nuki Prtama | Editor: Tim IT Bisnis Digital | Foto: Dokumentasi Prib

Categories
Artikel

Digital Business Law: Fondasi Hukum dalam Era Bisnis Digital

Poster Artikel Website (18)

Purwokerto, 12 November 2025

Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi, bertransaksi, dan menjalankan bisnis. Transformasi ini melahirkan era baru yang dikenal sebagai digital economy atau ekonomi digital. Dalam konteks ini, hukum pun harus beradaptasi agar mampu mengatur dinamika yang muncul di dunia maya. Inilah yang dikenal sebagai Digital Business Law — seperangkat aturan hukum yang mengatur kegiatan bisnis berbasis digital.

1. Pengertian Digital Business Law

Digital Business Law adalah bidang hukum yang mengatur segala aktivitas bisnis yang dilakukan melalui media digital, seperti e-commerce, fintech, digital marketing, transaksi elektronik, hingga perlindungan data pribadi. Tujuannya adalah menciptakan kepastian hukum, melindungi pelaku usaha dan konsumen, serta mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang sehat dan beretika.

Dalam konteks Indonesia, dasar hukum utama yang berkaitan dengan bisnis digital diatur dalam:

  • Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) beserta perubahannya;

  • Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP);

  • serta berbagai peraturan pelaksana seperti Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri terkait e-commerce dan transaksi elektronik.

2.Ruang Lingkup Digital Business Law

  • Transaksi Elektronik
    Mengatur sahnya kontrak atau perjanjian yang dibuat secara digital, termasuk tanda tangan elektronik dan bukti transaksi online. Dalam hukum Indonesia, transaksi digital diakui sah sepanjang memenuhi unsur kesepakatan para pihak dan tidak melanggar ketentuan perundang-undangan.

  • Perlindungan Konsumen Digital
    Pelaku usaha wajib memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur kepada konsumen. Konsumen juga memiliki hak untuk memperoleh barang/jasa sesuai deskripsi serta hak atas keamanan data pribadi.

  • Perlindungan Data Pribadi (PDP)
    Data pribadi kini diakui sebagai bagian dari hak asasi manusia. Pelaku bisnis digital wajib menjaga kerahasiaan, keamanan, dan integritas data pengguna sesuai UU PDP, serta wajib memiliki mekanisme persetujuan penggunaan data (consent).

  • Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
    Dalam dunia digital, pelanggaran HKI seperti plagiarisme, pembajakan, atau penggunaan konten tanpa izin semakin sering terjadi. Digital Business Law melindungi hak cipta, merek dagang, dan paten yang digunakan dalam bisnis online.

  • Keamanan Siber (Cybersecurity)
    Keamanan sistem informasi merupakan aspek penting dalam bisnis digital. Serangan siber dapat menyebabkan kerugian besar, baik secara finansial maupun reputasi. Oleh karena itu, perusahaan harus menerapkan cybersecurity compliance.

3.  Tantangan dalam Penerapan Digital Business Law

Meskipun regulasi telah ada, implementasi Digital Business Law masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti:

  • Minimnya literasi hukum digital di kalangan pelaku UMKM;

  • Kurangnya pengawasan terhadap praktik bisnis online lintas negara;

  • Cepatnya inovasi teknologi yang melampaui kecepatan pembuatan regulasi;

  • Risiko penyalahgunaan data pribadi oleh pihak ketiga.

4.  Peluang dan Arah ke Depan

Digital Business Law berperan penting dalam menciptakan ekosistem digital yang aman, transparan, dan berkelanjutan. Pemerintah dan sektor swasta perlu berkolaborasi dalam:

  • Mengedukasi masyarakat tentang hak dan kewajiban digital;

  • Meningkatkan keamanan data dan sistem transaksi;

  • Mendorong inovasi hukum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi seperti AI, blockchain, dan metaverse.

Dengan regulasi yang kuat dan penerapan yang konsisten, Indonesia dapat menjadi salah satu pusat ekonomi digital yang berdaya saing di Asia Tenggara.

5. Kesimpulan

Digital Business Law bukan sekadar perangkat hukum, melainkan fondasi kepercayaan dalam dunia bisnis digital. Keberadaannya memastikan setiap transaksi berjalan dengan aman, adil, dan sesuai etika. Di tengah arus digitalisasi yang semakin pesat, pemahaman dan kepatuhan terhadap hukum digital menjadi kunci utama bagi keberlanjutan dan kredibilitas bisnis di masa depan.

6. Daftar Pustaka

  • Indonesia. (2008). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58.

  • Indonesia. (2022). Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 185.

  • Kurniawan, D. (2023). Hukum Bisnis Digital: Perlindungan Konsumen dan Transaksi Elektronik di Era Digital Economy. Jakarta: Prenadamedia Group.

  • Raharjo, B. (2021). Aspek Hukum dalam Transaksi Elektronik dan E-Commerce di Indonesia. Bandung: Refika Aditama.

  • Susanto, A., & Pratama, R. (2020). Cyber Law dan Perlindungan Data Pribadi dalam Era Digital. Yogyakarta: Deepublish.

  • World Bank. (2023). Digital Economy and Regulation in Southeast Asia. Washington, D.C.: World Bank Group.

Penulis: Nuki Pratama & Novita Damayanti | Editor: Tim IT Bisnis Digital | Foto: Dokumentasi Pribadi

Jl. D.I Panjaitan No. 128 Purwokerto 53147, Jawa Tengah – Indonesia

Telp : 0281-641629

Email : info@telkomuniversity.ac.id

 

Telp

Email

: 0281-641629

Jl. D.I Panjaitan No. 128 Purwokerto 53147, Jawa Tengah – Indonesia

Telp

Email

: 0281-641629

: info@telkomuniversity.ac.id

Copyright ©2024 All Rights Reserved By Telkom University

Secret Link