Categories
Artikel

UMKM Go Digital: Pelatihan Pengelolaan Bisnis UMKM Berbasis Digital

Purwokerto, 11 Februari 2026

Di tengah perkembangan ekonomi digital yang semakin cepat, pelaku UMKM tidak hanya dituntut untuk memiliki produk yang baik, tetapi juga kemampuan dalam mengelola bisnis secara menyeluruh. Banyak UMKM memiliki potensi besar, namun masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan keuangan serta pengelolaan sumber daya usaha secara efektif. Inilah mengapa peningkatan kapasitas melalui pelatihan literasi keuangan dan pengelolaan sumber daya menjadi hal yang sangat penting dalam mendukung keberlanjutan UMKM berbasis digital.

Dalam menjalankan bisnis, pelaku UMKM tidak cukup hanya memahami cara menjual produk. Diperlukan pemahaman mengenai bagaimana mengatur arus kas, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, merencanakan pengembangan bisnis, serta mengelola sumber daya yang dimiliki agar lebih produktif dan efisien. Selain itu, di era digital saat ini, pengelolaan usaha juga perlu didukung dengan pemanfaatan teknologi digital agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Melalui kegiatan Pelatihan Pengelolaan Bisnis UMKM Berbasis Digital Telkom University Purwokerto bersama ASPIKMAS yang dilaksanakan pada 11 Februari 2026 di Aula Rachmat Efendi Telkom University Purwokerto, para peserta mendapatkan pembekalan materi mengenai literasi keuangan serta pengelolaan sumber daya manusia untuk UMKM berbasis digital. Pelatihan ini membantu pelaku UMKM memahami pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat sekaligus bagaimana mengoptimalkan sumber daya usaha agar bisnis dapat berkembang secara berkelanjutan di ekosistem digital.

Pengelolaan Keuangan UMKM Menjadi Kunci

Sebagai fondasi utama dalam membangun bisnis yang berkelanjutan, pengelolaan keuangan menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan UMKM di era digital saat ini. Di tengah persaingan bisnis yang semakin kompetitif dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, pelaku UMKM tidak hanya dituntut untuk mampu menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga harus mampu mengelola keuangan usaha secara tepat, terstruktur, dan berkelanjutan. Banyak UMKM yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang, namun masih menghadapi berbagai kendala dalam pengelolaan keuangan, mulai dari pencatatan transaksi yang belum rapi, pencampuran keuangan pribadi dan usaha, hingga belum adanya perencanaan keuangan yang matang. Kondisi tersebut seringkali menyebabkan bisnis terlihat berjalan baik dari sisi penjualan, namun secara finansial belum tentu berada dalam kondisi yang sehat.

Melihat kebutuhan tersebut, pelatihan Pengelolaan Bisnis UMKM Berbasis Digital yang diselenggarakan oleh Telkom University Purwokerto bersama ASPIKMAS menghadirkan materi yang berfokus pada penguatan literasi keuangan bagi pelaku UMKM. Pematerian ini disampaikan oleh Kurnia Indah Sumunar, S.E., M.S.Ak., selaku Dosen Bisnis Digital Telkom University Purwokerto. Materi ini menekankan pentingnya pemahaman literasi keuangan sebagai dasar dalam menjaga kestabilan arus kas usaha, meningkatkan efisiensi operasional, serta mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih tepat.

Literasi keuangan sendiri merupakan kemampuan pelaku usaha dalam memahami, mengelola, serta menggunakan keuangan usaha secara bijak dan terencana. Dengan literasi keuangan yang baik, pelaku UMKM dapat memahami perbedaan antara omzet dan keuntungan bersih, mengetahui kondisi arus kas usaha secara nyata, serta mampu menyusun strategi keuangan yang mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang. Tanpa pengelolaan keuangan yang baik, pelaku usaha berisiko mengalami kesulitan dalam menjaga stabilitas modal kerja, bahkan berpotensi mengalami kegagalan usaha meskipun memiliki produk yang berkualitas.

Dalam praktiknya, masih banyak pelaku UMKM yang menghadapi permasalahan dasar dalam pengelolaan keuangan, seperti belum adanya pencatatan transaksi yang konsisten, masih tercampurnya keuangan pribadi dengan keuangan usaha, serta penentuan harga jual yang belum didasarkan pada perhitungan biaya dan margin keuntungan yang jelas. Kondisi ini membuat pelaku usaha kesulitan dalam mengetahui posisi keuangan bisnis secara akurat serta menyulitkan dalam perencanaan pengembangan usaha ke depan.

Melalui materi literasi keuangan ini, pelaku UMKM didorong untuk mulai menerapkan pengelolaan keuangan yang lebih disiplin dan terstruktur. Beberapa langkah dasar yang ditekankan antara lain memisahkan keuangan pribadi dan usaha sebagai fondasi utama pengelolaan keuangan, melakukan pencatatan seluruh transaksi secara konsisten, menyusun laporan keuangan sederhana untuk memantau kondisi usaha, serta merencanakan pengeluaran dan target keuntungan secara realistis. Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti aplikasi pencatatan keuangan, Microsoft Excel, maupun sistem kasir digital juga diperkenalkan sebagai langkah awal digitalisasi pengelolaan keuangan UMKM.

Melalui penerapan pengelolaan keuangan yang baik, pelaku UMKM diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan modal, meminimalkan kesalahan administrasi, serta membangun kredibilitas usaha di mata mitra, investor, maupun lembaga keuangan. Pengelolaan keuangan yang sehat juga menjadi pondasi penting dalam mendukung transformasi digital bisnis secara menyeluruh.

Pelatihan ini menjadi salah satu langkah nyata dalam mendorong UMKM Banyumas agar tidak hanya kuat dari sisi produk dan pemasaran, tetapi juga memiliki fondasi keuangan yang sehat, terstruktur, dan siap berkembang di era digital yang semakin dinamis.

HRIS: Sistem Berbasis Digital untuk Pengelolaan SDM di UMKM

Sebagai lanjutan dari materi sebelumnya terkait literasi keuangan bagi UMKM, pembahasan kemudian lanjut pada aspek penting lainnya dalam pengelolaan bisnis, yaitu pengelolaan sumber daya manusia di era digital. Di era transformasi digital yang berkembang sangat cepat, pelaku UMKM tidak lagi hanya dituntut memiliki produk yang berkualitas, tetapi juga dituntut mampu mengelola bisnis secara lebih modern, efisien, dan berbasis data. Banyak UMKM yang memiliki potensi besar, namun masih menghadapi berbagai tantangan operasional, terutama dalam pengelolaan sumber daya manusia, pencatatan data karyawan, hingga proses administrasi yang masih dilakukan secara manual. Kondisi ini seringkali menyebabkan proses kerja menjadi lebih lambat, rawan kesalahan, dan sulit untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Melihat kebutuhan tersebut, pelatihan Pengelolaan Bisnis UMKM Berbasis Digital yang diselenggarakan oleh Telkom University Purwokerto bersama ASPIKMAS juga menghadirkan materi yang berfokus pada penguatan literasi digital bisnis, khususnya dalam pengelolaan SDM berbasis sistem digital. Pematerian disampaikan oleh Alfilia Hilda Rahmatika, S.M., M.M., CPHRM, CHRBP, selaku Dosen Bisnis Digital Telkom University Purwokerto.

Salah satu materi utama yang disampaikan adalah pemanfaatan Human Resources Information System (HRIS) sebagai solusi praktis untuk membantu UMKM mengelola data karyawan, absensi, penggajian, hingga monitoring kinerja secara lebih terstruktur dan efisien. Selain menyampaikan materi, Ibu Alfilia juga sedang melakukan riset penelitian terkait pengembangan sistem atau aplikasi HRIS yang dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan UMKM, sehingga diharapkan mampu menghadirkan solusi pengelolaan SDM yang lebih praktis, efisien, dan mudah diimplementasikan oleh pelaku usaha.

Melalui pemanfaatan sistem digital seperti HRIS, pelaku UMKM dapat mulai melakukan transformasi dari proses manual menuju sistem yang lebih terintegrasi. Digitalisasi ini tidak harus dimulai dari sistem yang mahal atau kompleks, tetapi dapat dimulai dari digitalisasi fondasi bisnis sesuai kebutuhan dan skala usaha. Dengan pengelolaan SDM yang lebih baik, UMKM diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi kesalahan administrasi, serta mendukung pengambilan keputusan bisnis berbasis data.

Pengelolaan UMKM di era digital menuntut perubahan pola pikir dari pengambilan keputusan berbasis intuisi menuju pengelolaan bisnis yang berbasis data. Melalui penerapan literasi keuangan yang baik, pelaku UMKM dapat memahami kondisi usaha secara nyata, menjaga stabilitas arus kas, serta merencanakan pengembangan bisnis secara lebih terarah. Di sisi lain, penerapan sistem digital seperti HRIS menjadi langkah strategis dalam membangun pengelolaan sumber daya manusia yang lebih rapi, efisien, dan profesional.

Dengan kombinasi pengelolaan keuangan yang disiplin dan pemanfaatan teknologi dalam manajemen SDM, UMKM tidak hanya mampu bertahan di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, tetapi juga memiliki fondasi yang kuat untuk berkembang, meningkatkan daya saing, dan naik kelas secara berkelanjutan di era digital.

Categories
Artikel

Memahami Pelanggan Lebih Dalam: Peran Customer Persona dalam Menentukan Arah Strategi Bisnis

Purwokerto, 09 Februari 2026

Di era perkembangan bisnis yang semakin ketat dan dinamis saat ini, memiliki produk yang berkualitas saja tidak lagi menjamin keberhasilan menjalankan suatu bisnis. Banyak beberapa bisnis – bisnis yang gagal namun bukan karena produknya memiliki kualitas buruk, tetapi karena produk tersebut tidak benar-benar menjawab kebutuhan pasar. Inilah mengapa memahami Market Need (Kebutuhan Pasar) menjadi fondasi utama dalam membangun strategi bisnis yang berkelanjutan.

Dalam memahami pasar bukan juga sekadar mengetahui “siapa yang membeli”. Diperlukan juga memahami mengapa mereka membeli, kapan mereka membeli, bagaimana mereka mengambil keputusan, dan masalah apa yang sebenarnya ingin mereka selesaikan dari produk atau bisnis yang dimaksud. Untuk menjawab semua pertanyaan ini secara sistematis dan efisien, digunakanlah pendekatan Customer Persona.

Customer persona dapat membantu perusahaan/bisnis mengubah data pasar yang abstrak menjadi gambaran manusia nyata yang bisa dipahami oleh seluruh tim, mulai dari marketing, produksi, hingga customer service.

Apa Itu Market Need dan Mengapa Penting?

Market Need adalah kebutuhan, keinginan, atau masalah yang dirasakan oleh kelompok pelanggan tertentu yang bisa diselesaikan oleh produk atau layanan bisnis Anda. Market Need penting karena merupakan pendorong utama keputusan pembelian, di mana produk/jasa difungsikan untuk memecahkan masalah tersebut. Mengidentifikasi kebutuhan pasar dapat membantu perusahaan menciptakan produk relevan, membedakan diri dari pesaing, dan memastikan keberhasilan bisnis. 

Market need biasanya muncul dari:

  • Perubahan gaya hidup masyarakat
  • Perkembangan teknologi
  • Perubahan tren sosial dan budaya
  • Masalah yang belum terselesaikan oleh produk yang ada

Bisnis yang sukses biasanya tidak hanya mengikuti tren, tetapi mampu:

  • Mengidentifikasi kebutuhan tersembunyi (latent needs)
  • Memprediksi kebutuhan masa depan
  • Memberikan solusi yang lebih mudah, cepat, atau murah dibanding kompetitor
Contohnya:
  • Ojek online muncul karena kebutuhan transportasi cepat dan praktis
  • E-wallet muncul karena kebutuhan transaksi non-tunai yang cepat
  • Ready-to-eat food muncul karena kebutuhan makanan praktis di gaya hidup sibuk

Contoh Customer Persona

Customer Persona

Customer persona adalah representasi dari profil pelanggan ideal yang dibuat berdasarkan data nyata dan riset pasar. Ini menggambarkan profil detail, seperti demografi (usia, lokasi), perilaku, motivasi, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi. Tujuannya adalah untuk memahami audiens secara mendalam, membantu penyesuaian strategi pemasaran, produk, dan layanan agar lebih relevan. 

Persona berfungsi untuk:

  • Membantu bisnis memahami pelanggan secara emosional dan rasional
  • Membuat strategi marketing lebih terarah
  • Mengurangi trial-error dalam pengembangan produk
  • Menyamakan persepsi antar tim internal
Komponen Utama Customer Persona

Dalam memahami target pasar secara lebih mendalam, bisnis tidak hanya melihat siapa pelanggan mereka, tetapi juga bagaimana mereka berpikir, bertindak, serta apa yang mereka butuhkan dan hadapi. Oleh karena itu, customer persona umumnya disusun melalui beberapa komponen utama yang saling melengkapi, yaitu demografi, psikografis, behavioral, goals, serta challenges atau pain points.

1. Demografi (Siapa Mereka Secara Data)

Demografi merupakan dasar awal dalam memahami pelanggan karena berisi data objektif yang membantu proses segmentasi pasar.

Contoh informasi:

  • Usia → memengaruhi gaya komunikasi dan preferensi produk
  • Gender → bisa memengaruhi kebutuhan spesifik
  • Lokasi → memengaruhi daya beli dan budaya konsumsi
  • Pekerjaan → memengaruhi kebutuhan produk dan waktu penggunaan
  • Pendapatan → menentukan pricing strategy

Melalui data demografi, bisnis dapat menentukan pasar mana yang paling realistis dan potensial untuk disasar.

2. Psikografis (Bagaimana Cara Mereka Berpikir)

Selanjutnya, psikografis memberikan gambaran yang lebih dalam karena berkaitan dengan cara pelanggan berpikir dan faktor emosional yang memengaruhi keputusan mereka.

Contoh:

  • Nilai hidup (contoh: hemat, premium lifestyle, sustainability)
  • Gaya hidup (aktif, sibuk, santai, digital savvy)
  • Minat dan hobi
  • Kepribadian

Hal ini penting karena keputusan membeli seringkali emosional, bukan logis.

3. Behavioral (Bagaimana Mereka Bertindak)

Komponen ini berfokus pada bagaimana pelanggan bertindak secara nyata.

Contoh:

  • Seberapa sering belanja
  • Platform favorit (TikTok, Instagram, Marketplace, dll)
  • Cara mencari informasi (review, influencer, rekomendasi teman)
  • Loyalitas terhadap brand
  • Ini sangat penting untuk menentukan:
  • Channel marketing utama
  • Timing promosi
  • Strategi retargeting

Data behavioral sangat membantu bisnis dalam menentukan channel marketing utama, waktu terbaik untuk promosi, serta strategi retargeting yang lebih efektif.

4. Goals (Apa yang Ingin Mereka Capai)

Selain memahami karakteristik dan perilaku pelanggan, bisnis juga perlu mengetahui goals atau tujuan yang ingin dicapai pelanggan. Biasanya berisi:

  • Tujuan praktis → hemat waktu, hemat uang
  • Tujuan emosional → merasa percaya diri, terlihat modern
  • Tujuan sosial → ingin terlihat up-to-date

Dari Goals diatas dapat menunjukkan bahwa produk yang berhasil biasanya tidak hanya menjual fungsi, tetapi juga membantu pelanggan mencapai tujuan pribadi mereka.

5. Challenges / Pain Points (Apa yang Menghambat Mereka)

Pada komponen ini dijelaskan hambatan atau masalah yang sering dihadapi pelanggan dalam mencapai tujuan mereka, terutama terkait produk atau layanan suatu bisnis.

Contoh pain points:

  • Produk terlalu mahal
  • Proses penggunaan ribet
  • Tidak percaya brand
  • Pengalaman buruk sebelumnya

Dengan memahami pain points, bisnis dapat merancang solusi yang lebih tepat sasaran dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Manfaat Strategis Customer Persona untuk Bisnis

1. Produk Lebih Tepat Sasaran:Tim produksi dapat membuat produk ataupun merancang fitur layanan yang benar-benar dibutuhkan oleh pelanggan, bukan hanya berdasarkan asumsi bahwa produk tersebut menarik atau inovatif. Dengan demikian, proses pengembangan menjadi lebih efektif dan memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi di pasar.

2. Efisiensi Budget Marketing: Selain itu, strategi pemasaran juga menjadi lebih efisien. Ketika target audiens sudah jelas, aktivitas iklan dapat difokuskan pada segmen yang paling potensial. Hal ini berdampak pada meningkatnya ROI (Return on Investment) karena biaya pemasaran digunakan secara lebih optimal, sekaligus menurunkan cost per acquisition.

3. Komunikasi Lebih Personal: Dari sisi komunikasi, pemahaman karakteristik pelanggan membuat pesan pemasaran terasa lebih personal dan relevan. Konten yang dibuat seolah berbicara langsung kepada kebutuhan dan masalah pelanggan, sehingga meningkatkan engagement dan peluang bisnis.

4. Sinkronisasi Antar Tim: Dengan gambaran pelanggan yang sama, tim produk, marketing, hingga operasional dapat mengambil keputusan yang lebih selaras dan konsisten dengan arah bisnis perusahaan.

Cara Praktis Menerapkan Customer Persona dalam Bisnis

1. Mengumpulkan Data

Sumber data:

  • Survey pelanggan
  • Interview langsung
  • Data transaksi
  • Insight media sosial
  • Google Analytics

2. Temukan Pola Pelanggan

Cari kesamaan:

  • Motivasi beli
  • Pain points utama
  • Platform favorit
  • Faktor pengambilan keputusan

3. Membuat Profil Persona

Biasanya berisi:

  • Nama fiktif
  • Foto ilustrasi
  • Background cerita singkat
  • Goals
  • Pain points
  • Preferensi media

4. Gunakan di Semua Strategi Bisnis

Persona dapat dipakai untuk:

  • Campaign marketing
  • Product development
  • Pricing strategy
  • Customer experience

Memahami market need tanpa customer persona ibarat melihat pasar dari jauh tanpa memahami siapa yang ada di dalamnya. Customer persona membantu bisnis masuk ke perspektif pelanggan, memahami kebutuhan mereka secara nyata, dan menciptakan solusi yang benar-benar relevan.

Bisnis yang memahami pelanggannya secara mendalam bukan hanya bisa menjual produk, tetapi juga bisa membangun hubungan jangka panjang, loyalitas, dan keunggulan kompetitif yang sulit ditiru dalam persaingan bisnis.

Categories
Artikel

LKS Pemasaran Banyumas 2026: Inovasi Live Streaming di Dealer Yamaha Jadi Lomba Berbasis Industri Pertama

Purwokerto, 04 Januari 2026

Dunia pendidikan vokasi di Kabupaten Banyumas mencatatkan tonggak sejarah baru melalui penyelenggaraan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Bidang Pemasaran (Digital Marketing) tahun 2026. Kompetisi yang berlangsung pada 28-29 Januari 2026 di Kota Purwokerto ini tidak hanya menjadi ajang seleksi menuju tingkat Provinsi Jawa Tengah, tetapi juga menampilkan terobosan konsep integrasi langsung dengan industri. Sebanyak 11 SMK negeri dan swasta turut berpartisipasi dalam format kompetisi yang inovatif ini. angkatan pertama dari Program Studi Bisnis Digital. Momen ini menjadi tonggak awal perjalanan prodi dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan dunia bisnis berbasis teknologi digital.

Konsep Unik: Arena Kompetisi di Tengah Ritel Otomotif

Berbeda dengan 31 bidang lomba lainnya dalam LKS, kompetensi Pemasaran menjadi satu-satunya yang digelar langsung di lokasi mitra industri, yaitu Sentral Yamaha Purwokerto (CV Teguh Putera Mandiri). Menurut Agung Pambudi, S.E, S.Kom., M.M., Ketua MKKS SMK Kabupaten Banyumas, langkah ini merupakan bentuk aktualisasi nyata dari manajemen talen. “Dengan pelaksanaan langsung di dunia industri, sekat antara teori di kelas dan realitas praktik kerja menjadi hilang. Atmosfer kompetisi yang tercipta pun lebih autentik dan menantang bagi peserta,” jelasnya.

Dukungan penuh dari mitra industri juga ditekankan oleh Sigit Arif Suryantoro, S.E., M.Pd., Ketua MGMP Pemasaran Kabupaten Banyumas. “Kehadiran dan kolaborasi dengan CV Teguh Putera Mandiri, sebagai dealer utama Yamaha, memberikan pengalaman yang sangat berharga dan langsung (hands-on) bagi peserta. Inovasi ini memaMomentum wisuda ini menjadi simbol dimulainya kontribusi nyata lulusan Program Studi Bisnis Digital bagi dunia profesional. Para lulusan diharapkan mampu terus mengembangkan diri, menjaga integritas, serta berperan aktif dalam menciptakan solusi dan peluang di bidang bisnis digital.

Uji Nyata Kreativitas: Live Streaming Selling di TikTok 

Puncak keseruan kompetisi terlihat ketika seluruh peserta secara serentak melakukan Live Streaming Selling di TikTok, yang berlangsung langsung di area showroom Yamaha. Melalui sesi ini, kepercayaan diri dan kreativitas para calon pemasar digital diuji dalam mempromosikan unit kendaraan roda dua secara nyata. Drs. Witoto, Kepala SMK Negeri 1 Purwokerto, yang turut menyaksikan langsung, menyampaikan apresiasinya. “Antusiasme dan performa yang ditunjukkan peserta menggambarkan kesiapan mental dan keterampilan mereka sebagai calon tenaga pemasar digital yang andal. Kemampuan menguasai platform media sosial secara profesional ini menjadi aset berharga di era ekonomi digital,” ujarnya.

Standar Nasional dalam Penilaian, Siap Berlaga di Tingkat Tinggi

Untuk memastikan kualitas juara yang berdaya saing, panitia melibatkan tim juri yang terdiri dari berbagai lintas sektor, mencakup praktisi nasional, perwakilan industri, dan akademisiAhmad Madani, Praktisi dan Juri LKS Nasional, menjelaskan bahwa skema penilaian yang diterapkan di tingkat kabupaten sengaja diselaraskan dengan standar nasional. “Hal ini bertujuan agar perwakilan dari Banyumas yang akan maju ke tingkat provinsi dan nasional telah memiliki bekal dan keunggulan kompetitif yang memadai,” terang Madani.

Proses penilaian yang komprehensif ini diperkuat dengan kehadiran Muhammad Hasan (Kepala Divisi Digital Marketing Sentral Yamaha) sebagai representasi praktisi industri, dan Muhammad Eka Purbaya (Dosen Universitas Telkom Purwokerto) yang membawa perspektif akademis. Kolaborasi keduanya memastikan bahwa setiap aspek penilaian—mulai dari penyusunan strategi konten, kreativitas presentasi, hingga teknik komunikasi—telah melalui telaah yang mendalam dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja serta keilmuan. 

Penutup

LKS Pemasaran Banyumas 2026 telah membuktikan bahwa inovasi dalam penyelenggaraan kompetisi siswa, melalui kolaborasi erat dengan industri, tidak hanya mempertajam kemampuan teknis peserta tetapi juga membangun mentalitas dan pengalaman lapangan yang tak ternilai. Terobosan ini diharapkan dapat menjadi model dan inspirasi bagi pengembangan pendidikan vokasi ke depan, dalam mencetak lulusan yang siap kerja, kreatif, dan berdaya saing tinggi di pasar global.

Jl. D.I Panjaitan No. 128 Purwokerto 53147, Jawa Tengah – Indonesia

Telp : 0281-641629

Email : info@telkomuniversity.ac.id

 

Telp

Email

: 0281-641629

Jl. D.I Panjaitan No. 128 Purwokerto 53147, Jawa Tengah – Indonesia

Telp

Email

: 0281-641629

: info@telkomuniversity.ac.id

Copyright ©2024 All Rights Reserved By Telkom University

Secret Link